Jumat, 23 November 2012

Sejarah Mengapa 1 Menit = 60 Detik


http://lh3.ggpht.com/-_Yv0a9pNyKM/TllCN4HOjVI/AAAAAAAAMFA/zkV0T45JvN4/time-warp_thumb%25255B23%25255D.jpg?imgmax=800

Bilangan 60 digunakan untuk menyatakan waktu, sejam 60 menit, semenit 60 detik. Bilangan 60 ini digunakan pertama kali oleh bangsa Sumeria, jadi mereka berhitung dengan basis 60 atau disebut juga Sexagesimal.
Alasan kenapa digunakan bilangan 60 adalah bilangan ini bilangan terkecil yang bisa dibagi oleh enam angka pertama yaitu: 1,2,3,4,5,6. 

Jadi dengan mudah kita bisa terbayang: 1/2 jam = 30 mnt, 1/3 jam = 20 menit, 1/4 jam = 15 menit, dst. Bayangkan kalau satu jam = 100 menit, berarti 1/3 jam = 33,333 mnt??? Kalo kata orang, itu ngga bunyi …

Kalo kata matematisnya, 60 itu highly composite number, atau bilangan yang angka pembaginya/faktornya banyak, yaitu 1,2,3,4,5,6,10,12,15,20,30,60.


Detik

Detik atau sekon adalah satuan waktu dalam SI (Sistem Internasional, lihat unit SI) yang didefinisikan sebagai durasi selama 9.192.631.770 kali periode radiasi yang berkaitan dengan transisi dari dua tingkat hyperfine dalam keadaan ground state dari atom cesium-133 pada suhu nol kelvin.

Dalam penggunaan yang paling umum, satu detik adalah 1/60 dari satu menit, dan 1/3600 dari satu jam.


Sejarahnya

Pada awalnya, istilah second dalam bahasa Inggris dikenal sebagai "second minute" (menit kedua), yang berarti bagian kecil dari satu jam. Bagian yang pertama dikenal sebagai "prime minute" (menit perdana) yang sama dengan menit seperti yang dikenal sekarang.

Besarnya pembagian ini terpaku pada 1/60, yaitu, ada 60 menit di dalam satu jam dan ada 60 detik di dalam satu menit.

Ini mungkin disebabkan oleh pengaruh orang-orang Babylonia, yang menggunakan hitungan sistem berdasarkan sexagesimal (basis 60).

Istilah jam sendiri sudah ditemukan oleh orang-orang Mesir dalam putaran bumi sebagai 1/24 dari mean hari matahari. Ini membuat detik sebagai 1/86.400 dari mean hari matahari.

Di tahun 1956, International Committee for Weights and Measures (CIPM), dibawah mandat yang diberikan oleh General Conference on Weights and Measures (CGPM) ke sepuluh di tahun 1954, menjabarkan detik dalam periode putaran bumi disekeliling matahari di saat epoch, karena pada saat itu telah disadari bahwa putaran bumi di sumbunya tidak cukup seragam untuk digunakan sebagai standar waktu.

Gerakan bumi itu digambarkan di Newcomb's Tables of the Sun (Daftar matahari Newcomb), yang mana memberikan rumusan untuk gerakan matahari pada epoch di tahun 1900 berdasarkan observasi astronomi dibuat selama abad ke-18 dan 19.

Dengan demikian detik didefinisikan sebagai 1/31.556.925,9747 bagian dari tahun matahari di tanggal 0 Januari 1900 jam 12 waktu ephemeris.

Definisi ini diratifikasi oleh General Conference on Weights and Measures ke sebelas di tahun 1960. Referensi ke tahun 1900 bukan berarti ini adalah epoch dari mean hari matahari yang berisikan 86.400 detik. Melainkan ini adalah epoch dari tahun tropis yang berisi 31.556.925,9747 detik dari Waktu Ephemeris.

Waktu Ephemeris (Ephemeris Time - ET) telah didefinisikan sebagai ukuran waktu yang memberikan posisi obyek angkasa yang terlihat sesuai dengan teori gerakan dinamis Newton.

Dengan dibuatnya jam atom, maka ditentukanlah penggunaan jam atom sebagai dasar pendefinisian dari detik, bukan lagi dengan putaran bumi.

Dari hasil kerja beberapa tahun, dua astronomer di United States Naval Observatory (USNO) dan dua astronomer di National Physical Laboratory (Teddington, England) menentukan hubungan dari hyperfine transition frequency atom caesium dan detik ephemeris.

Dengan menggunakan metode pengukuran common-view berdasarkan sinyal yang diterima dari stasiunradio WWV, mereka menentukan bahwa gerakan orbital bulan disekeliling bumi, yang dari mana gerakan jelas matahari bisa diterka, di dalam satuan waktu jam atom.

Sebagai hasilnya, di tahun 1967, General Conference on Weights and Measures mendefinisikan detik dari waktu atom dalam International System of Units (SI) sebagai

Durasi sepanjang 9.192.631.770 periode dari radiasi sehubungan dengan transisi antara dua hyperfine level dari ground state dari atom caesium-133.

Ground state didefinisikan di ketidak-adaan (nol) medan magnet. Detik yang didefinisikan tersebut adalah sama dengan detik ephemeris. Definisi detik yang selanjutnya adalah disempurnakan di pertemuan BIPM untuk menyertakan kalimat

Definisi ini mengacu pada atom caesium yang diam pada temperatur 0 K. Dalam prakteknya, ini berarti bahwa realisasi detik dengan ketepatan tinggi harus mengkompensasi efek dari radiasi sekelilingnya untuk mencoba mengextrapolasikan ke harga detik seperti yang disebutkan di atas.

Setiap orang wajib tahu waktu, oleh karena itu mari kita pelajari konversi atau perubahan waktu berikut ini :

1 Detik = Sama Dengan Seper 60 Menit (1/60 Detik)
1 Menit = Sama Dengan 60 Detik
1 Jam = Sama Dengan 60 Menit
1 Jam = Sama Dengan 3.600 Detik
1 Hari = Sama Dengan 24 Jam
1 Hari = Sama Dengan 1.440 Menit
1 Hari = Sama Dengan 86.400 Detik
1 Minggu = Sama Dengan 7 Hari
1 Bulan = Sama Dengan 28 Sampai 31 Hari
1 Bulan = Sama Dengan 4 Minggu
1 Caturwulan Atau Cawu = Sama Dengan 4 Bulan
1 Semester = Sama Dengan 6 Bulan
1 Tahun = 365 Sama Dengan Hingga 366 Hari
1 Tahun = Sama Dengan 12 Bulan
1 Dasawarsa = Sama Dengan 10 Tahun
1 Abad = Sama Dengan 100 Tahun

Kamis, 22 November 2012

Referensi Kedua Tentang Kiamat 2012



Para ilmuwan di Meksiko kembali menemukan prasasti Suku Maya yang memperkuat ramalan akan terjadinya kiamat pada 2012.

Para ilmuwan pernah menemukan prasasti Suku Maya di situs Tortuguero di teluk Tabasco yang sempat menggegerkan dunia karena prasasti itu berisi ramalan terjadinya kiamat pada 2012. 

http://reinep.files.wordpress.com/2011/11/2012_maya.jpg?w=472&h=377


Hari kiamat yang berdasarkan interpretasi beberapa kalangan tertera di prasasti itu terkait dengan Bolon Yokte, dewa misterius Suku Maya yang dihubungkan dengan perang dan penciptaan.

Selama ini, prasasti dari Tortuguero merupakan satu-satunya rujukan tentang kiamat 2012. Namun kini, National Institute of Antropology and History di Meksiko mengumumkan bahwa sebenarnya ada satu lagi prasasti yang diperkirakan merujuk pada kiamat 2012. Prasasti itu ditemukan beberapa tahun lalu di situs Comalcalco, sebelah barat Tabasco.

Tak seperti prasasti lainnya, Prasasti Comalcalco berbahan bata merah sehingga disebut Bata Comalcalco. Prasasti itu telah menjadi perbincangan di kalangan ilmuwan akhir-akhir ini.

Ada ilmuwan yang mengatakan bahwa teks pada prasasti itu merujuk hari kiamat pada tanggal 21 Desember 2012. Namun, ada pula yang mengatakan 23 Desember 2012. Masih belum jelas.
http://reinep.files.wordpress.com/2011/11/comalcalco-bricks-and-the-second-fragment.gif?w=153

David Stuart, pakar epigrafi Universitas Texas di Austin, mengatakan, prasasti itu memuat kalenderlingkaran, kombinasi posisi hari dan bulan yang berulang tiap 52 tahun.

Tanggal yang tertera di prasasti terkait dengan akhir Baktun (periode tiap 394 tahun) ke-13. Angka 13 ialah angka keramat dalam pandangan Suku Maya.

Akhir Baktun ke-13, jika interpretasinya benar, akan jatuh pada 21 Desember 2012, yang boleh jadi merupakan akhir dunia. Namun, Stuart mengatakan bahwa interpretasi itu bisa saja salah. Tanggal yang dimaksud mungkin sudah terjadi pada masa lalu, merujuk kejadian besar di era klasik.

"Tidak ada alasan bahwa itu tidak bisa merujuk tanggal di masa lalu, mendeskripsikan peristiwa di masa klasik. Di samping itu, huruf ketiga pada prasasti sepertinya merujuk pada kata kerja huli, 'Diadatang'. Tak ada penanda masa depan, yang dalam pikiran saya, berarti bahwa tanggal di Comalcalco lebih berupa sejarah daripada masa depan," jelas Stuart.

Apakah benar akan ada kiamat pada 2012? Jawabnya, tak ada yang tahu. Tapi National Institute of Antropology and History telah lama menyatakan bahwa kiamat 2012 yang dikaitkan dengan Suku Maya adalah interpretasi yang kurang tepat.

Suku Maya memandang dunia sebagai sebuah siklus, berawal dan berakhir secara berkala, bukan seperti pandangan awam bahwa dunia nantinya akan benar-benar berakhir.

Planet Theia Penyebab Penciptaan Bulan


Hipotesis Theia menyebutkan, dahulu ada sebuah planet seukuran Mars yang disebut planet Theia mengorbit di tata surya Bima sakti. Planet ini kemudian disebut Titan pada zaman Yunani kuno yang melahirkan Dewi bulan, Selene.

Hipotesis ini menceritakan tentang terbentuknya Bulan sekitar 4.5 triliun tahun lalu. Dalam dua studi yang saya menemukan teori bulan yang menyatakan bahwa Bulan memiliki komposisi yang mirip dengan Bumi, begitu juga hipotesis Paradox Lunar yang menjelaskan tentang akibat dan perhitungan kecepatan tabrakan antara planet Theia dan Bumi.

Planet Theia, Benda Besar Yang Menabrak Bumi

Planet Theia terbentuk di sekitar orbit yang sama dengan Bumi, tetapi sekitar 60 derajat ke depan atau belakang. Ketika protoplanet berkembang menjadi seukuran Mars, ukurannya justru membuat planet Theia terlalu berat agar mengorbit dan tetap stabil. Akibatnya jarak sudut Bumi semakin bervariasi hingga akhirnya menabrak Bumi.
Planet Theia
Planet Theia / Credit: NASA JPL-Caltech
Tabrakan ini diperkirakan terjadi sekitar 4.533 triliun tahun yang lalu ketika planet Theia menghantam Bumi pada sudut miring dan menghancurkan planet Theia selama proses tabrakan. Mantel planet Theia dan sebagian besar mantel silikat Bumi terdorong ke ruang angkasa, bagian kiri atas bahan planet Theia tercampur dengan bahan-bahan dari Bumi dan akhirnya membentuk Bulan.
Penelitian terakhir yang memvalidasi hipotesis ini menunjukkan bahwa inti planet Bumi dan inti Bulan mengandung bahan isotop silikon yang sama, yang mendukung bahwa keduanya berasal dari satu planet hingga bencana besar memisahkannya.
Para ilmuwan Universitas Oxford, Universitas California dan Swiss Federal Institute of Technology membandingkan isotop silikon dari batuan bumi, serta bahan-bahan lain dari sistem tata surya Bima Sakti seperti bahan dari meteorit. Sekitar 2,900 kilometer ke dalam bumi (belum mencapai setengah jalan ke pusat Bumi) terdapat mantel dan kerak. Sebagian besar terbentuk dari silikat, senyawa silikon, oksigen, dan elemen lainnya. Kemudian lebih dalam dari garis itu merupakan bahan besi padat logam yang membentuk inti bumi.
Tim ini menemukan bahwa isotop lebih berat dari sampel yang diambil dari silikat Bumi. Mereka menemukan bahwa Mars, asteroid Vesta dan berbagai chrondites atau meteorit primitif yang pernah dibentuk core ainner, tidak mengandung unsur tersebut meskipun mereka memiliki inti besi. Bahan yang jauh lebih kecil daripada Bumi (sekitar seperdelapan) sehingga tidak memiliki cukup massa menghasilkan tekanan yang diperlukan untuk membentuk inti yang sama seperti yang ditemukan di planet Bumi.
Di sisi lain para peneliti menemukan bahwa Bulan menunjukkan komposisi yang sama dari komposisi isotop silikon berasal dari planet Bumi. Namun jauh lebih kecil daripada Bumi atau sekitar 1/50 dan sekitar satu persen dari massa bumi, bahkan cenderung mampu menghasilkan tekanan yang cukup untuk membentuk mirip besi inti Bumi.
Para peneliti berpendapat bahwa Bulan memang terbentuk saat bencana raksasa akibat planet Theia yang berukuran besar selama pengembangan awal terbentuknya Bumi. Dampaknya cukup besar terhadap bahan-bahan yang akhirnya membentuk Bulan tercampur dengan bahan-bahan dari bumi yang sudah memiliki komposisi silikon berat.
Dalam Jurnal Nature yang dirilis mereka, menyatakan bahwa komposisi isotop seperti silikat Bumi dan Bulan konsisten dengan usulan baru-baru ini, ada isotop skala besar selama dampak tabrakan. Penelitian ini merupakan jenis yang pertama menggunakan isotop dan menawarkan wawasan menarik ke dalam penciptaanplanet Mars, planet Bumi, dan Bulan. Hal ini juga dapat membantu menjelaskan bagaimana kehidupan berevolusi di Bumi, dan membuktikan apakah ada (atau tidak mungkin) peradaban masa lalu di Mars.

Hipotesis Paradox Lunar Libatkan Planet Theia

Sekelompok peneliti dari Universitas Bern-Swiss telah membuat terobosan signifikan dalam kisah pembentukan Bulan, menunjukkan jawaban tentang Paradox Lunar. Mereka menjelajahi geometri yang berbeda dari simulasi tabrakan planet Theia sebelumnya dan mempertimbangkan konfigurasi baru tentang dampak tabrakan (dikenal ‘Hit and Run’) di mana sebagian besar bahan yang hilang ke ruang angkasa pada orbit terikat/tertarik ke Bumi.
Tidak ada simulasi yang disajikan dalam penelitian ini, mereka hanya menjelaskan sebab & kendala dari sistem Bumi dan Bulan. Artikel planet Theia dan Bumi ‘A hit-and-run Giant Impact Scenario’ ditulis Andreas Reufer, Matthias MM Meier, Willy Benz, Rainer Wieler, yang diterbitkan Elsevier.
Andreas Reufer menyatakan bahwa model ini mempertimbangkan parameter dampak baru yang tidak pernah diuji sebelumnya. Selain implikasi sistem planet Bumi dan Bulan, kecepatan tabrakan planet Theia jauh lebih tinggi dan membuka kemungkinan baru tentang asal penabrak, dan pembentukan planet terestrial.

Selasa, 20 November 2012

Benarkah Bahtera Nuh Berasal Dari Mars?


Legenda mengatakan bahwa bahtera Nuh berada di Gunung Ararat, tetapi lukisan gua Pech Merle Perancis dibuat antara tahun 17,000 SM hingga 15,000 SM menjelaskan lanskap penuh satwa liar dengan sejumlah benda berbentuk piring. Salah satu lukisan benar-benar menunjukkan sosok seorang pria memandang salah satu piring terbang.

Kebanyakan orang menganggap Erich von Daniken dan Zechariah Stichen sebagai orang-orang yang familiar dalam gagasan cerita alien kuno. Brinsley Le Poer Trench seorang warga Inggris yang juga sebagai anggota House Of Lords di Parlemen Inggris mendukung pernyataan tersebut sejak awal tahun 1960-an.
Legacy Of The Sky People karya Timothy Green Beckley, menuliskan tentang masa lalu mengungkapkan pernyataan yang diperluas dari Brinsley Le Poer Trench tentang Manusia langit, merupakan salah satu buku yang pertama kali membangun konsep Astronot Kuno.

Bahtera Nuh Kenderaan Aneh Planet Mars

Kisah Trench dimulai pada tahun 1960-an ketika Beckley baru bekerja sebagai jurnalis dan penerbit berita UFO. Keduanya penggemar piring terbang yang saling bertukar publikasi dan saling ber-korespondensi selama bertahun-tahun. Pada tahun 1970-an, Trench mengundang Beckley berbicara sebelum komite khusus UFO di House Of Lords di London. Sebagian gagasan kehidupan yang ada di planet lain atau di sistem tata surya lain umumnya dapat diterima orang-orang yang lebih muda. Sedangkan di tahun 1950-an dan 1960-an, hampir semua orang menolak pernyataan itu.
Beckley tidak hanya menulis ulang buku Trench, dia menambahkan materi baru dari beberapa penulis terbaik di Ufology dengan studi pribadi mereka tentang teori astronot kuno. Seperti Nick Redfern, salah satu peneliti duniaparanormal yang terkenal yang memberikan kontribusi membahas kisah bahtera Nuh.
Cerita bahtera Nuh dan banjir besar yang menghancurkan dunia dimana Tuhan membiarkan beberapa manusia yang hidup dan terdiri dari sepasang makhluk hidup, juga merupakan bagian integral dari tradisi keagamaan lainnya seperti Sumeria, Babilonia, dan Hindu kuno. Redfern menjelaskan bagaimana kisah manusia diperintahkan untuk membangun sebuah kapal tempat penampungan sisa-sisa umat manusia dari bencana dunia adalah salah satu mitos agama yang paling universal.
bahtera Nuh, ararat
Bahtera Nuh di gunung Ararat / Credit: noahsarksearch.com
Legenda mengatakan bahwa bahtera Nuh berada di Gunung Ararat, Turki. Redfern menceritakan kisah menarik di tahun 1949 tentang awak pesawat Angkatan Udara AS memfoto struktur anomali menonjol diantara es dan salju Gunung Ararat dan selama beberapa dekade militer dan intelijen berusaha memahami obyek misterius tersebut.
Redfern menyatakan bagaimana benda anomali tersebut dianggap suatu benda logam, bukan kayu konstruksi bahtera Nuh dan mungkin merupakan sebuah pesawat alien yang jatuh.
Redfern menceritakan, ketika mengalami kontak dengan alien ditahun 1950, Malai Van George berpartisipasi dalam mengungkap misteri di puncak Gunung Ararat, mereka berada di bawah pengawasan CIA dan FBI. Informasi tentang struktur ini kemudian berkembang, tapi pemerintah bertekad menutup-nutupi hal tersebut.
Beberapa cerita yang dipaparkan dalam buku ini juga mengutip pernyataan Brad Steiger, salah satu penulis paling produktif supranatural dunia, dan Giorgio seorang juru bicara resmi Erich von Daniken. Steiger pernah menghadiri konferensi Astronot Kuno pada awal tahun 1980 di mana pembicara utama lainnya adalah Erich von Daniken, Josef Blumrich (penulis ‘The Spaceships Yehezkiel’).
Gagasan Trench menyatakan bahwa Nuh adalah orang Israel kuno, dia seorang pemimpin besar di Mars dan Tabut merupakan pesawat ruang angkasa raksasa yang dimaksudkan untuk membawa sisa-sisa peradaban kuno yang masih hidup ke Bumi, mirip dengan konsep bahtera Nuh. Manusia mungkin telah direkayasa secara genetis oleh ras unggul yang berasal dari Mars dan membawa kehidupan ke Bumi dengan alasan yang tidak diketahui.
Jika kita membuat spesies cerdas di laboratorium, itu tidak membuat kita sebagai Tuhan. Makhluk luar angkasa tidak makhluk halus, mereka ber-daging dan ber-darah, secara fisik terdiri dari atom dan molekul yang sama.
Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa makhluk luar angkasa terlihat sama seperti kita. Bahkan makhluk luar angkasa memiliki hal yang sama persis tentang kehidupan, kematian, dan agama. Seluruh ide yang menjelaskan bahwa makhluk luar angkasa terlihat seperti pada film Alien atau Independence Day, hanya stereotip Hollywood.

Bukti Yang Membingungkan Tentang Bahtera Nuh

Gua lukisan di Tanzania, diperkirakan berusia hingga 29,000 tahun menggambarkan beberapa disk berbentuk objek yang melayang di atas lanskap. Lukisan lain menunjukkan entitas empat humanoid yang disekitarnya seorang wanita sementara entitas lain tampak turun dari langit melalui semacam kotak.
lukisan gua Pech Merle
Lukisan hewan di gua Pech Merle / Credit: donsmaps.com
Kemudian di dalam gua Pech Merle Perancis, lukisan dibuat antara tahun 17,000 SM hingga 15,000 SM yang menunjukkan lanskap penuh satwa liar dengan sejumlah benda berbentuk piring. Salah satu lukisan benar-benar menunjukkan sosok seorang pria memandang salah satu piring terbang.
Di Australia utara ada sejumlah lukisan gua mungkin lebih dari 5000 tahun, yang menunjukkan adanya makhluk aneh dengan kepala dan mata besar, memakai pakaian seperti setelan ruang angkasa. Suku Aborigin menyebutnya makhluk Wandjina dan menurut legenda bahwa Wandjina turun dari bintang-bintang Bima Sakti dan menciptakan bumi dan semua penghuninya.
Kitab Genesis berisi dua versi yang berbeda dari Kisah Penciptaan dan mitos bahtera Nuh dalam Banjir Besar. Hal ini membingungkan para sarjana Alkitab selama bertahun-tahun, mereka percaya bahwa versi berbeda mungkin dicangkokkan bersamaan dengan tradisi sebelumnya secara lisan dan tertulis.
Kemudian cerita tentang Penciptaan berbeda, dua ras berbeda diciptakan oleh dua Pencipta yang berbeda, yang satu disebut Elohim dan satunya lagi disebut Jehovah. Elohim menciptakan bentuk pria yang bertelepati, cerdas dan sensitif. Yehuwa menciptakan bentuk manusia yang lebih primitif, dirancang untuk mengolah kebun para Dewa di Bumi dan hal lain yang dapat diperbudak dan patuh. Kedua ras telah bertahan hingga zaman modern, tetapi bentuk superior dari manusia yang diciptakan Elohim akhirnya akan menang.
Alien kuno masih hidup bersama manusia hingga hari ini, beberapa dari mereka hidup di antara kita dan tak terlihat, bekerja, membangun keluarga dan kegiatan sehari-hari sama seperti yang kita lakukan.
Hal ini disinggung para peneliti UFO (Budd Hopkins) yang menyatakan bahwa makhluk alien atau manusia hybrid yang muncul secara fisik sama dengan manusia, berjalan di antara kita yang dilengkapi dengan telepati dan kekuatan supranatural. Mereka adalah alien yang sama, dan akan mencegah manusia dari kebinasaan akibat tangan manusia sendiri melalui senjata nuklir atau pengrusakan ekologi.
Mungkin, dalam persepsi dan pandangan agama sangat bertentangan dengan gagasan ini, tetapi bahtera Nuh hingga saat ini masih menjadi misteri dan beberapa catatan sejarah menjelaskan adanya unsur-unsur aneh didalamnya.

Shining Ones, Iblis Yang Bersinar



Teks kuno menyebutkan bahwa Shining Ones merupakan guru dari umat manusia, yang membantu manusia, yang tak lain adalah iblis yang bersinar.
Dan artikel saya kali ini akan melibatkan pemikiran ilmiah tentang sejarah masa lalu dan pencapaian teknologi saat ini. Pada kenyataannya, shining ones mempunyai banyak arti yang sering disalah terjemahkan manusia, pada hakikatnya mempunyai tujuan menghancurkan peradaban manusia.
Dari apa yang saya temukan dalam berbagai sumber tulisan diantaranya The Shining Ones: The World’s Most Powerful Secret Society Revealed karya Philip Gardiner, dan Tales from the Grave: An Anthology of True Ghost Stories karya Tammy A.Branom dkk. Disini saya hanya menyertakan sumber dari teks-teks kuno walaupun sebenarnya memiliki persamaan dengan kitab-kitab agama, tapi coba cari sendiri sesuai keyakinan Anda.

Shining Ones Karya Iblis

Alam semesta terlalu besar dan setiap tanda-tanda keberadaan makhluk ekstrateresterial sangat kecil kemungkinannya agar bisa menemukan kita. Entitas dunia kita, baik secara dimensi ekstra ataupun ultra merupakan penjelasan yang lebih logis sebagai sumber utamanya. Seperti dugaan Albert Einsteintentang adanya waktu, masa lalu, sekarang, masa depan, sepanjang waktu dan bukan hanya dari waktu ke waktu seperti yang kita rasakan tanpa pemikiran ilmiah. Dalam pikiran seseorang atau kelompok yang memiliki pengetahuan dimensi, maka waktu bisa dilalui.
Makhluk-makhluk ekstrateresterial muncul dalam teks-teks kuno, mitos, dan agama-agama di seluruh dunia. Era Baru dan perkiraan lainnya sering menyatakan istilah Yang Bersinar (Shining Ones) yang diyakini kebenarannya. Tapi sebagian besar referensi tidak benar mengartikan Shining Ones sesuai namanya, melainkan entitas dari deskripsi yang sama. Seperti yang tertulis pada ‘Egyptian Book Of The Dead‘:
Chapters of Coming Forth By Day: “Behold, oh ye shining ones, ye men and gods…”
Chapter 134 – 15/17: “Behold, oh ye shining ones, ye men and gods…”
Shining Ones yang dimaksud, dalam lingkup terbatas diwilayah Mesir, kepercayaan Pagan, Alkitab Kristen, tulisan-tulisan Yunani kuno, dan tablet Sumeria.
Pada dasarnya ‘Shining Ones’ membuat dirinya dikenal di berbagai tempat di seluruh dunia, lebih cerdas daripada manusia, mengajarkan manusia berbagai informasi yang diperlukan dan penampakannya secara visual benar-benar “Bersinar” atau direferensikan memiliki sinar cahaya yang berseri-seri.
Catatan yang sama juga mengacu pada ‘Bersinar’ yang dapat dengan mudah diartikan sebagai manusia yang “Tercerahkan” baik secara agama atau pendidikan. Shining Ones dalam catatan Mesir adalah mungkin sebagai referensi Raja Mesir yang dianggap Dewa dan manusia dengan garis keturunan langsung dari Dewa mereka.
Deskripsi ini memang bisa menjadikan manusia ditinggikan derajatnya, tetapi oleh siapa? ‘Tercerahkan’ dapat diartikan bijaksana, berpendidikan, murni, ilahi/Dewa atau kuat, yang bisa menggambarkan siapa saja yang orang-orang terdahulu melihat dalam istilah-istilah tradisi. Kemudian pada akhirnya penelusuran silsilah akan berakhir pada pangkal dan satu pertanyaan: “Siapa yang mengajarkan?”

Siapakah Shining Ones?

Ada banyak cerita tentang Shining Ones. Bidadari atau Peri dan Elves (Peri Cahaya dan Dark Elves) yang berasal dari mitologi Celtic memiliki referensi sebagai Shining Ones. Lugh dari Pan-Celtic disebut Shining Ones, Dewa Perang Belatucadros dari Celtic-Inggris disebut Fair Shining Ones, Dewa Hindu disebut Shining Ones, dan juga Archangel Michael disebut sebagai Bersinar, bahkan istilah UFO juga sering disebut Shining Ones.
Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak penyebutan ‘Bersinar’ seperti Dewa Mars, Dewa Pahlawan, Elohim, para Annunaki, para Penjaga, iblis, malaikat, Dewa utama, Dewa yang lebih rendah, Tuhan, imam, dan Nabi. Meskipun demikian, mereka semua adalah ‘Pembantu’ atau pendidik umat manusia. Referensi yang ada mungkin sangat kuno, Shining Ones atau yang Bersinar disebutkan dengan nama yang tidak umum dalam tulisan kuno, seolah-olah mereka hanya hadir ketika diperlukan, mungkin ketika kondisi sangat memungkinkan atau mengalami gangguan ruang waktu.
Selain itu, ada pendapat bahwa yang ‘Bersinar’ sebenarnya cahaya. Tetapi sangat diragukan, mungkin ‘Bersinar’ telah mengalami arti ganda tergantung pada konteks. Atau, bagaimana jika yang ‘Bersinar’ disalah tafsirkan. Seperti penafsiran berkulit pucat, pakaian terang atau putih, mirip dengan penggambaran Lugh (Celtic), bahkan Annunaki Sumeria juga berkulit putih.
Siapa, dan dimana sebenarnya Shining Ones atau yang ‘Bersinar’? Teks kuno menyatakan bahwa mereka datang dari langit, seperti surga atau angkasa. Ada deskripsi dalam beberapa kitab suci yang melibatkan reinkarnasi jiwa dengan cerita naik (berangkat) ke surga dan kembali turun kembali ke Bumi, seolah-olah hanya jiwa atau energi dari jasad yang ditinggalkan.
Dalam kepercayaan Dewa Hindu, penghuni pesawat astralnya lebih tinggi. Deva adalah guru dan pelindung umat manusia, mereka juga datang kepada manusia melalui mimpi dengan berbagai pesan. Ada Dewa yang turun dengan pesawat astral lebih rendah, atau hanya menempatkannya di sekitar kita. Para Dewa yang turun dapat melakukan perbuatan baik dan bereinkarnasi menjadi Deva baik yang kemudian dikembalikan ke pesawat yang lebih tinggi.
Dalam persepsi mungkin pesawat astral berasal dari dimensi lain dan energi atau jiwa yang dibawa belum tentu mati, melainkan makhluk hidup dimensi lain. Mereka turun dari langit, mungkin ketika pintu antar dimensi dibuka maka perbedaan antara planet Bumi dan tempat mereka membuat sebuah ‘lompatan’.
Dalam catatan teks kuno disebutkan: “Dia melihat Malaikat naik dan turun ke surga pada ‘tangga’ yang semuanya berkilau.”

Makhluk Ekstrateresterial Menembus Ruang Waktu

Sekarang, mari kita berfikir secara ilmiah, dengan menggunakan logika Fisika Kuantum. Apakah Anda pernah membayangkan bahwa makhluk luar angkasa akan naik dan turun melalui tangga? Tangga sepanjang jalan ke surga, maka mungkin belum tentu tangga, melainkan gambaran sederhana dari ‘orang-orang melintasi jalan tersebut’. Lintasan itu adalah pemisah dimensi kita, dimensi yang memisahkan manusia dengan Dewa, malaikat, setan dan iblis.
Bagaimana dengan Surga dan Neraka? Seperti yang disebutkan, naik ke atas artinya surga. Neraka tidak di planet lain, melainkan eksistensi dimensi yang lain, ataukah neraka berada di bumi? Kitab Henokh menceritakan bahwa “Mikail kemudian mengikat Samyaza dan keturunannya yang jahat selama 70 generasi di dunia bawah (bumi), bahkan sampai hari penghakiman.”
Teks kuno menyebutkan bahwa Shining Ones (yang bersinar) adalah guru dari umat manusia, yang membantu manusia. Beberapa teks kuno menunjukkan bahwa mereka memainkan peranan dalam penciptaan manusia. Malaikat yang turun justru merupakan kutukan karena mereka mengajarkan cara-cara surga (sihir) kepada manusia dan mengawini mereka. Shining Ones, atau yang ‘Bercahaya’ merujuk pada kutukan ‘jatuh, terbuang, ular, dan Annunaki’.
Kisah Joan Of Arc yang diberi pedang oleh seorang Malaikat, ketika dia memegang pedang itu maka kemenangan menjadi miliknya, sama halnya dengan cerita legenda Raja Arthur. Legenda Amakuni Yasutsuna dan putranya, Amakura yang berdoa kepada Dewa Shintountuk mendapatkan desain pedang baru, mereka berdua menerima pesan illahi berupa mimpi pisau, bersinar bermata tunggal dan melengkung. Kemudian pedang ini menjadi senjata standar pada waktunya. Tapi bagaimana jika kisah legenda itu didasarkan pada kebenaran?
Shining ones, iblis, malaikat
Pertemuan Shining Ones / Credit: dark.pozadia.org
Semua orang di zaman kuno dibantu oleh entitas saleh dan pengetahuan yang diberikan berupa hadiah ‘perang’. Perang secara inheren yang dibangun ke dalam diri manusia, makhluk ini sedang bermain. Seperti yang pernah saya tuliskan pada artikel yang lalu (Kitab Henokh Ungkap Peradaban Lemuria Zaman Idris) disebutkan:
Azazyel menciptakan perlengkapan tidak wajar untuk istrinya seperti riasan mata dan gelang mewah untuk meningkatkan daya tarik seks. Sedangkan untuk pria, Azazyel mengajarkan mereka ‘setiap jenis kejahatan’ termasuk sarana untuk membuat pedang, pisau, perisai, pakaian perang dan semua peralatan perang (8:1-9)
Sama halnya dengan di negeri kita, banyak orang yang berkeyakinan bahwa mereka mendapatkan wangsit berupa keris atau senjata lain. Kebanyakan mereka bertemu dengan sosok yang ‘Bercahaya’, bersinar, berbaju putih, atau gambaran lain yang memang mirip dengan Shining Ones. Itu sebabnya dalam ajaran Islam sangat dilarang menyakini benda, karena Iblis tetap berusaha membuat seluruh keturunan Adam tetap berada dalam lingkaran perang dan sihir.
Malaikat, Iblis, Dewa, Annuaki dan penampakan penampakan UFO yang terus meningkat adalah teknologi mereka. Jangan berpikir teknologi itu diberikan kepada manusia, tapi frekuensi yang dipancarkan dari semua benda elektronik yang ada di bumi maupun di luar angkasa, mungkin memiliki efek yang tidak diketahui.

Ruang Waktu Dimensi Iblis Dan Manusia

Banyak teks kuno menyatakan bahwa orang mati yang bangkit kembali dan berjalan di antara makhluk yang hidup. Mereka tidak hanya bangkit, melainkan teknologi telah melanggar ‘ruang waktu’ disekitar planet kita dan kita bisa melihat semua orang yang terjadi di masa lalu, sekarang, masa depan, ekstrateresterial dan ultra dimensi.
Jika orang tidak memahami dimensi dan fisika kuantum, maka mereka pasti percaya orang-orang menjadi hantu dan berada disekitar kita.
Artikel yang lalu saya menuliskan tentang perjalanan waktu walaupun hanya berupa kesaksian yang belum tentu benar. Jika manusia telah menemukan pintu ruang waktu yang kemungkinan besar bisa menembus ruang antar dimensi seperti yang diperkirakan Albert Einstein, ini adalah teknologi terhebat tiada tanding. Manusia akan mengetahui kebenaran siapa sebenarnya Shining Ones atau yang Bercahaya, Annunaki, Iblis, Malaikat, apapun sebutan makhluk ET (ekstrateresterial), yang semua itu melalui perjalanan ruang waktu antar dimensi. Bahkan mungkin saja manusia bisa melakukan perjalanan menuju surga seperti para nabi. Dan misi sang Iblis, Setan, makhluk bercahaya, akan berakhir ketika manusia mengetahui siapa mereka, ketika itu manusia akan meyakini satu sang Pencipta.
Pada saat pencapaian teknologi ruang waktu antar dimensi, maka sang Pencipta akan bertindak, peradaban manusia mungkin akan berakhir atau kembali pada peradaban pra sejarah, lebih buruk lagi benar-benar Kiamat. Yang paling penting adalah memahami shining ones, iblis yang bercahaya didalam mimpi maupun dunia nyata.

Buku Kematian Mesir ( The Egyptian Book Of The Dead)



Kitab Kematian merupakan koleksi mantra yang digunakan orang Mesir untuk membantu mereka masuk ke akhirat.
Ada kemiripan antara kode moral bangsa Mesir kuno dan bangsa awal Israel. Sepuluh Hukum yang diberikan Allah kepada Musa di atas Gunung Sinai secara jelas diatur dalam tradisi Mesir, isi yang sama dengan Kitab Kematian. Agama Mesir merupakan kepercayaan politeistik, ratusan dewa dan dewi disembah di sepanjang lembah Nil. Para Dewa diyakini menampakkan diri dalam gambar tertentu dan seniman menggambarkannya dalam bentuk patung.
Apa sebenarnya isi Kitab Kematian dari bangsa Mesir? John Taylor (dari Museum Inggris) dan Ahmed Osman (sejarawan, dosen, Egyptologist Inggris) akan menjelaskan secara rinci tentang Kitab Kematian yang dianggap sakral dalam dunia magis.

Kitab Kematian, Mantra Menuju Surga

Mereka menganggap akhirat sebagai bagian dari perjalanan untuk mencapai surga, perjalanan yang berbahaya sehingga memerlukan magis sepanjang perjalanan. Kitab Kematian bukan seperti Alkitab, bukan kumpulan doktrin atau suatu pernyataan iman, tetapi panduan praktis menuju dunia berikutnya dengan mantra yang akan membantu perjalanan itu.
Mereka percaya bahwa setiap orang memiliki, selain tubuh fisik, yang bersifat rohani ganda. Menganggap nama dan bayangan seseorang sebagai entitas yang hidup, bagian dari eksistensi spiritual, bukan hanya bahasa dan fenomena alam. Anggapan bahwa kematian hanya sebagai gangguan sementara, bukan penghentian hidup yang lengkap, dan percaya bahwa setelah kematian mereka akan menghadapi pengadilan di dunia bawah sebelum dewa Osiris dan 42 hakim di Aula Pengadilan.
Kitab Kematian, kitab mantra
Kitab Kematian Mesir, Pinedjem II Dynasty ke-21, Circa 990-969 SM / Photo: British Museum
Pada masa dinasti ke-18 Unas sekitar 1500 SM, mantra ini disalin pada gulungan papirus dan ditempatkan ke dalam peti mati. Gulungan ini dikenal sebagai salinan dari Kitab Kematian.
Kitab Kematian biasanya menggunakan gulungan papirus dengan berbagai mantra tertulis di atasnya, dalam naskah hieroglif. Biasanya memiliki ilustrasi berwarna yang indah, sangat mahal sehingga hanya digunakan bagi mereka yang kaya dan berstatus tinggi. Hal ini bergantung pada pada kekayaan masing-masing, bisa membeli papirus yang sudah diisi mantra atau bisa menghabiskan banyak uang untuk memilih mantra yang diinginkan.

Mantra Pelindung Tertulis Dalam Kitab Kematian

Beberapa mantra memastikan mereka untuk mengontrol tubuh setelah kematian. Orang Mesir kuno percaya bahwa seseorang terdiri dari elemen berbeda yaitu tubuh, roh, nama, hati, semua itu perwujudan seseorang, dan mereka takut bahwa elemen-elemen tersebut akan menghilang setelah kematian. Ada banyak mantra untuk memastikan mereka agar tidak kehilangan kepala atau hati dan tidak membusuk, serta mantra lain tentang menjaga hidup dengan menghirup udara, memiliki air minum dan makanan.
Ada juga mantra yang melindungi diri sendiri karena menurut orang Mesir kuno, mereka akan diserang dalam perjalanan ke akhirat melalui berbagai media seperti binatang buas, diserang oleh dewa atau setan yang melayani dewa. Dalam dunia berikutnya ada banyak dewa yang menjaga gerbang yang harus dilewati, dan jika tidak memberikan jawaban yang benar atas pertanyaan, dewa-dewa itu akan menyerang, mereka memiliki pisau dan ular di tangan. Hal ini didasarkan pada ancaman yang mereka ketahui dalam kehidupan nyata, hanya jauh lebih menakutkan dan jauh lebih berbahaya.
Tanpa mantra yang benar mereka bisa dihukum, seperti disimpan di blok pembantaian, dipenggal kepalanya, atau bisa terbalik (proses pencernaan juga terbalik, sehingga harus makan kotoran dan minum air kencing selamanya).
Hal terburuk yang bisa terjadi yaitu kematian kedua. Mereka tewas dan semangat tidak bisa kembali sehingga mereka akan memiliki kehidupan setelah kematian.

Mantra Mengandung Perintah Dewa

Menurut Ahmed Osman (sejarawan, dosen, peneliti, penulis, Egyptologist Inggris), bahwa sepuluh Perintah Dewa merupakan perintah kepada manusia yang diberikan dalam bentuk imperatif. Mantra Mesir menggunakan kalimat seperti ‘Jangan membunuh, Engkau tidak berzinah, Jangan mencuri, Jangan mengucapkan saksi dusta terhadap sesamamu’. Mereka akan berkata:
Salam untukmu, Dewa yang besar, Tuhan Dua Kebenaran. Aku datang kepadamu, Tuhanku, supaya engkau membawa saya untuk melihat keindahan-Mu. Aku mengenal Engkau, aku tahu nama-Mu, aku tahu nama-nama 42 Dewa yang berada dengan Engkau di aula Dua Kebenaran yang luas… Lihatlah, Aku datang kepadamu. Saya telah membawa kebenaran kepadamu, aku telah melakukan dosa bagi Mu. Aku tidak berdosa terhadap siapapun. Saya bukan orang teraniaya. Aku tidak melakukan kejahatan, bukan kebenaran…
Sebanyak 125 mantra dalam Kitab Kematian bertentangan dengan Kitab Exodus, berisi kode moral yang direpresentasikan dalam bentuk ‘pengakuan negatif’ bahwa orang mati harus membaca mantra (yang tertulis di Kitab Kematian) ketika mereka memasuki ruang ‘Dua Kebenaran’.

Dewa Kuno Ciptakan Tradisi Sama Di Seluruh Dunia


Dewa Kuno mengajarkan tradisi yang sama diseluruh dunia, dimulai dari pembuatan struktur bangunan piramid, pemujaan, tarian, hingga simbol-simbol yang sama diseluruh budaya.

Jauh sebelum kedatangan Colombus, suku asli daratan Amerika dan orang-orang didaratan Eropa dan Mesir sudah berkomunikasi dan saling memahami tanpa perlu mempelajari bahasa masing-masing. Sebuah misteri peradaban yang mungkin belum bisa terpecahkan bagaimana mereka berhubungan satu sama lain, melalui simbol dan tradisi yang mirip.
Dalam beberapa tradisi keagamaan, legenda, dan adat istiadat penduduk asli Amerika sangat mirip dengan peradaban di Eropa pra-Colombus. Namun menurut pendapat sejarawam hal ini hanya kebetulan karena tidak ada kontak antara kedua daerah sebelum Columbus melintasi benua ini. Bangsa Viking mencapai Amerika Utara sebelum Colombus, Gavin Menzies dalam bukunya ’1434: The Year a Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance’ menjelaskan beberapa bukti yang menunjukkan bahwa sebuah armada China sebelumnya juga pernah mengunjungi daerah ini.

Tradisi Dewa Kuno Di Seluruh Dunia

Cukup banyak bukti adanya hubungan antara peradaban kuno dan Dunia Baru (dibentuk masa Colombus) yang sering berbentuk aspek-aspek tertentu dari agama Dewa Kuno dan dianut orang-orang di seluruh peradaban awal di dunia. Menurut legenda sejarah peradaban kuno bahwa manusia di bumi diajarkan oleh seorang Guru Besaryang mengunjungi dunia ini beberapa ribu tahun yang lalu, dan kemudian menghancurkan ras manusia kuno yang jahat dengan banjir besar, banjir yang diperkirakan banjir besar telah terjadi sekitar 3000 SM.
Chichen Itza, dewa kuno, piramid maya
Chichen Itza / Credit: mexicotoday.org
Cerita tentang kunjungan Dewa Kuno dimasa pra banjir besar diwariskan dari generasi ke generasi di seluruh dunia. Deskripsi yang sama diceritakan turun temurun, sama seperti yang diceritakan orang-orang di Mesir dan Amerika. Peralatan berteknologi tinggi konon dibawa Dewa Kuno yang dikabarkan memiliki beberapa fungsi dan terkait dengan penguasa di seluruh peradaban kuno dan Dunia Baru.
Simbolisme sering digunakan untuk mengekspresikan keyakinan agama, seperti simbol lingkaran konsentris dimana orang-orang Sumeria kuno menggunakannya ketika berhubungan dengan Dewa Ea. Batu ukiran di beberapa negara Eropa juga terukir di puncak gunung Amerika Selatan. Hal ini juga menjadi salah satu desain mistis di Gurun Nazca Peru dan disinggung dalam legenda Amerika Utara.
Desain Klasik Labyrinth ditemukan di berbagai belahan dunia dimulau dari Kepulauan Inggris hingga ke Mesir, India, Afghanistan dll. ‘Tanda positif yang dilingkari’ merupakan simbol populer di kedua di kalangan penduduk asli Amerika dan Celtic, dan ketika agama Kristen tiba di Eropa, hal itu diadopsi oleh Gereja sebagai bentuk salib.
Berbagai jenis hewan secara simbolis berhubungan dengan Dewa Kuno dan beberapa dari mereka menjadi objek untuk disebah. Beberapa hewan suci dikorbankan untuk para Dewa Kuno baik di peradaban terdahulu maupun di Dunia Baru. Seperti ular yang terkait dengan makhluk ekstra-terestrial dan dihormati selama ribuan tahun bahkan di negara-negara di mana tidak ada ular.

Dewa Kuno Dalam Legenda

Orang-orang merayakan festival dengan tarian ular bahkan ular hidup di rumah mereka. Ketika Pizarro tiba di Peru, suku Inca keliru berpikir bahwa Dewa dan teman-temannya telah kembali dan menjadi penguasa mereka. Atahualpa telah mengatur semuanya untuk bertemu dengan Spanyol di Cassamarca, di Kuil Ular di mana ular terukir disana.
Ada sesuatu yang istimewa dalam legenda ular Sumeria yang berhubungan dengan DewaAnnunaki yang ditemukan dalam legenda dan seni keagamaan di Timur Tengah, Mesir Kuno, Asia Tengah dan Barat Afrika. Hal ini juga ditemukan pada agama di Amerika Tengah, diantarasuku Aztec dan suku Maya.
Piramida banyak dibangun di berbagai wilayah dunia terbuat dari batu bata dan tanah liat. Bangunan ini dianggap sebagai monumen keagamaan atau makam bangsawan, seperti Gunung Olympus di Yunani Kuno yang dikaitkan dengan dewa. Untuk merasakan kedekatan manusia pada dunia para Dewa Kuno, maka kuil dibangun di tempat-tempat yang tinggi.
Tapi semua bangunan Dewa Kuno memiliki geometri suci sama yang dimasukkan ke dalam desain Piramida Mesir, Timur Tengah, Amerika Tengah dan Selatan. Dan kokain pernah ditemukan di beberapa mumi Mesir, tapi pernyataan ini ditolak secara konservatif karena menurut mereka tidak pernah terjadi hubungan antara Mesir dan Amerika yang menjadi sumber kokain.
Dewa Kuno berperan penting dalam agama terdahulu baik di peradaban kuno dan Dunia Baru, situs agama banyak yang selaras dengan Soltis dan Ekuinoks. Ursa dan Orion muncul dalam tradisi agama di benua Eropa, Amerika dan Afrika, terkait perbintangan dan keyakinan sama seperti Pleiades. Di banyak negara, musim pertanian dimulai ketika muncul bintang Pleiades dan upacara khusus dirayakan pada waktu tertentu sepanjang tahun. Beberapa kalender peradaban kuno dan Dunia Baru juga diatur melalui Pleiades.
Bukti menarik adanya kontak antara Amerika dan negeri Timur, Profesor Gualberto Zapata Alonzo dalam bukunya ‘An Overview of the Mayan World’ menyebutkan bahwa orang Indian Meksiko dan orang-orang Jepang dapat memahami bahasa satu sama lain tanpa menggunakan penerjemah.
Alonzo juga menyebutkan bahwa sebuah buku tahun 1969 yang ditulis Don Ignacio Magaloni Duarte (Educador del Mundo) melampirkan foto-foto mangkuk dari Babilonia dengan ornamentasi Maya dan Vas Asyur, dengan jenis yang sama dari desain yang ditemukan di kuil Maya. Ada juga angka suci (9) dalam beberapa agama awal khususnya diterpakan pada suku Maya dan Cina yang keduanya membangun struktur keagamaan sembilan tingkat. Jumlah yang sama sering muncul dalam mitologi Norse dan dalam banyak legenda di seluruh wilayah Utara.

Tradisi Misterius Olmecs

Olmecs, sampai saat ini tidak diketahui dari mana mereka berasal tetapi beberapa patung batu besar memiliki fitur Afrika, Semit dan Oriental yang menunjukkan bahwa Olmecs merupakan ras campuran. salah satu batu prasasti Olmec di La Venta terdapat representasi kelompok Dewa Kuno yang diidentifikasi sebagai Dewa Pencipta suku Maya. Dalam tradisi agama yang tercatat dalam Quiche-Maya Popul Vuh, sangat mirip dengan dewa-dewaSumeria kuno. Dan ada tradisi asli yang populer di Amerika Tengah terdengar seolah-olah diadopsi dari Kitab Kematian Mesir (Egyptian Book of the Dead).
Tidak ada arti khusus pada fitur Afrika dalam beberapa situs kepala batu Olmec tetapi beberapa peneliti alternatif telah mencoba untuk mengidentifikasi Olmec dengan suku-suku di Afrika. Legenda ular terkait Dewa Kuno di Afrika Barat dan Amerika Tengah, tradisi suku sangat mirip di Amerika Tengah-Barat dan Afrika Timur.
Banyak pernyataan kontroversial tentang hubungan antara peradaban kuno dan Dunia Baru, salah satunya penulisan Phoenix dan Ogham yang ditemukan di bebatuan Amerika Utara. Dikatakan bahwa pada tahun 1976 sisa-sisa Romawi kuno ditemukan 15 mil dari pantai Rio de Janeiro-Brazil. Ada juga legenda bahwa Pangeran Welsh (Madoc) dan para pengikutnya melakukan perjalanan kembali ke Amerika pada tahun 1170, dan Indian Mandan merupakan keturunan dari mereka.
Beberapa sarjana alternatif meyakini bahwa Easter Island di Pasifik merupakan bagian dari benua yang hilang, yang bisa dibuktikan melalui patung-patung misterius batu bertelinga panjang. Salah satu legenda Easter Island memiliki kemiripan cerita legenda yang sama dengan orang-orang di Polinesia Hawaii dan di antara masyarakat asli Amerika.
Banyak sejarawan mengabaikan fakta bahwa tradisi beberapa penduduk asli Amerika Utara sangat mirip dengan peradaban awal Amerika Tengah dan Selatan. Dan akhirnya pergantian kalender Maya Desember 2012 telah disalahpahami, hal ini bukan cerita akhir dunia walaupun banyak orang khawatir dan meyakini. Padahal tanggal ini sangat penting dalam tradisi keagamaan suku Maya terkait Dewa Kuno.