Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2012

Legenda Perahu Matahari Mesir Kuno


Legenda perahu matahari Firaun Khufu ternyata bukan sekedar legenda atau mitos belaka. Karna unuk pertama kalinya semenjak berabad - abad, akhirnya Perahu Matahari berhasil dieksplorasi oleh tim National Geographic sekitaran bulan Juni lalu. Perahu yang menjadi bagian dari mitologi bangsa Mesir tersebut ditemukan di kaki sebuah Piramida besar, di Giza.
Petroglyph "Solar Boat"
Dalam Mitologi Mesir kuno, "Solar Boat" menjadi salah satu peranan yang penting tentang bangsa Mesir dan Dunia akhirat. Konon, setiap malam sang Dewa Matahari Ra (dalam bentuk "Matahari Senja" Ra-Atum), pergi berlayar dengan sebuah perahu ke dunia akhirat, bertempur dengan Dewa - dewa dan Binatang - binatang besar lainnya sampai ia kembali ke bentuk "Matahari Pagi" (Ra-Horakhty), dan berlayar dilangit. Dalam legenda, Dewa Ra (Re) memiliki dua kapal yang berbeda, yaitu untuk siang hari adalahmanedjet (manD.t) dan malam hari yaitumesektet (msk.t.t).  Mitosnya lagi, Pada jam pertama sebuah hari, Matahari menempuh perjalanan setiap hari di atas Mesir dengan Ra di pucuk pimpinan. Bawah kapal berenang ular, makhluk yang dihormati oleh orang Mesir.

Pelayaran Dewa Ra
Perahu yang penuh dengan legenda tersebut berhasil dieksplorasi tim National Geographic yang kemudian akan di rekonstruksi untuk siap dipamerkan di Museum "Solar Boat" Mesir Kuno. 2008 lalu, sebenarnya sudah dipamerkan Perahu yang pertama kepada para pengunjung, yang merupakan kapal milik Firaun Khufu. Yang baru - baru ini ditemukan, diyakini adalah milik adiknya yang dimaksudkan untuk membantu perjalanan sang Firaun di dunia akhirat.
Proses Penggalian Perahu kedua
Perahu Matahari milik Firaun Khufu yang di pamerkan 2008 silam

Mitologi Mesir Kuno satu persatu mulai dapat tereksplorasi, meskipun menurut beberapa scientist masih banyak yang masih terkubur dan belum dapat ditemukan. Akankah dengan penemuan - penemuan hebat ini mampu merangkai Misteri dari zaman keemasan Mesir Kuno? Ataukah lebih jauh lagi, akan membongkan Rahasia - rahasia kehidupan ini? Terlalu jauh memang, toh kan kita bisa menganggap ini adalah sebuah penemuan situs - situs Budaya zaman Mesir Kuno yang dapat menambah ilmu pengetahuan Sejarah kita. Mitologi Mesir Kuno yang juga dikenal karna beberapa Lambang Okultisme yang mereka punya di "adopsi" oleh beberapa organisasi "New World Order" itu, memang menjadi daya tarik tersendiri untuk disimak. Akhir kata, keren buat tim Nat-Geo, pengen deh jadi pegawai disana...hehehe

Selasa, 04 Oktober 2011

Makam Cao-cao di temukan

Ahli arkeologi China telah menggali sebuah makam besar abad ketiga, yang diduga merupakan makam politisi dan jendral legendaris Cao Cao. Ia dikenal di seluruh Asia Timur karena tipu daya dan kecerdikannya. Televisi negara CCTV pada hari minggu melaporkan, makam tersebut ditemukan di desa Xigaoxue dekat kota kuno Anyang di Provinsi Henan. Ada sebuah prasasti pada batu nisannya yang kelihatannya merujuk pada Cao Cao. Ketua tim Arkeologi Makam Kuno Anyang Xigaoxue, Pan Wenbing mengatakan, mereka menemukan baju pelindung, pedang dan tombak yang dipercaya pernah digunakan oleh Cao Cao. [Pan Wenbing, Ketua Tim Arkeologi]: Cao Cao biasanya menggunakan pedang lebar dan tombak pendek untuk pertahanan. Kami menemukan enam darinya di makam. Tim penggali juga menemukan tengkorak dari seorang lelaki usia sekitar 60-an, yang sesuai dengan usia Cao-Cao saat kematiannya. Ada pula sisa jasad dari dua wanita. Pepatah China yang berbunyi, Sebut Cao-Cao dan dia akan muncul, adalah seperti pepatah Inggris Sebut Iblis. Cao Cao merupakan perwakilan terakhir dari dinasti Han Timur, yang membentuk negaranya sendiri pada waktu huru-hara politik, selama masa Tiga Kerajaan. Dia meninggal pada abad 220 sesudah Masehi di Luoyang, ibukota dari dinasti Han Timur. Setelah kematiannya, dia dinamakan Kaisar Wu dari Negeri Wei yang didirikannya. NTD News melaporkan.

Daftar Dinasti yang pernah berkuasa di Cina




Inilah daftar yang di dapat:



Tiga Penguasa dan Lima Kaisar


Dinasti Xia 
( 2100 SM-1600 SM ) Lama berkuasa 470 tahun

Dinasti Shang 
( 1600 SM-1046 SM ) Lama berkuasa 554 tahun

Dinasti Zhou
 ( 1046 SM-256 SM ) Lama berkuasa 790 tahun

Zaman Musim Semi dan Gugur

Zaman Negara-Negara Berperang

Dinasti Qin
 ( 221 SM-206 SM ) Lama berkuasa 15 tahun

Dinasti Han Barat
 ( 206  SM-220 M ) Lama berkuasa 426 tahun

Dinasti Xin
 ( 9 SM-23 SM ) Lama berkuasa 14 tahun

Dinasti Han Timur

Tiga Negara/Kerajaan

Dinasti Jin
 ( 265 M-420 M ) Lama berkuasa 155 tahun

Enam Belas Negara

Dinasti Selatan dan Utara

Dinasti Sui

 ( 581 M-618 M ) Lama berkuasa 37 tahun

Dinasti Tang

 ( 618 M-907 M ) Lama berkuasa 289 tahun

Lima Dinasti dan Sepuluh Negara

Dinasti Liao

 ( 916 M-1125 M ) Lama berkuasa 209 tahun

Dinasti Song

 ( 920 M-1279 M ) Lama berkuasa 319 tahun

Xia Barat

Kekaisaran Jin

 ( 1115 M-1234 M ) Lama berkuasa 119 tahun

Dinasti Yuan

 ( 1271 M-1368 M ) Lama berkuasa 97 tahun

Dinasti Ming

 ( 1368 M-1644 M ) Lama berkuasa 276 tahun

Dinasti Qing

 ( 1644 M-1912 M ) Lama berkuasa 268 tahun

Republik Cina (Taiwan)

Republik Rakyat Cina

 ( 1949 M- sekarang )

Tiga Maharaja dan Lima Kaisar dalam sejarah Cina

Tiga Maharaja dan Lima Kaisar




Tiga Maharaja dan Lima Kaisar ( sānhuáng wǔdì / 三皇五帝 ) merupakan legenda sejarah kuno paling awal Cina. Dalam legenda sejarah kuno Cina, sampai akhir Periode Negara Perang sudah terdapat berbagai versi tentang “Lima Kaisar”. Sedangkan kata “Tiga Maharaja” baru mulai muncul pada akhir Periode Negara Perang. Dan sampai zaman Dinasti Hàn baru mulai terbentuk berbagai versi tentang “Tiga Maharaja” yang ditempatkan di depan “Lima Kaisar”.
Arti semula dari huruf “Maharaja ( huáng / 皇 )” adalah “Besar ( dà / 大 )” dan “Cantik ( měi / 美 )”, yang pada awalnya belum dipakai sebagai istilah atau kata nomina. Baru sampai akhir Periode Negara Perang, oleh karena huruf “Kaisar ( dì / 帝 )” dari kata “Tuhan ( shàngdì / 上帝 )” dipakai juga sebagai sebutan untuk para penguasa manusia, maka baru mulai diadopsikan huruf “Maharaja” untuk sebutan “Tuhan”. Seperti berbagai sebutan dalam buku 《 Phraseologi Chǔ ( salah satu karya literatur puisi dan syair klasik Cina ) 》 ; Maharaja Barat, Maharaja Timur, Maharaja Atas dan sebagainya.
Kemudian juga ada sebutan Maharaja Langit, Maharaja Bumi dan Maharaja Manusia, yang disebut sebagai “Tiga Maharaja”. Dalam buku 《Tata Krama Zhōu》, 《Kronik Sejarah Lǚ Bùwéi》 dan 《 Kronologi Zhuāngzǐ》 juga mulai ada sebutan “Tiga Maharaja dan Lima Kaisar” yang bermaksud penguasa manusia. Bahkan dalam buku 《Kronologi Guǎn Zhòng》 telah dijabarkan dan dijelaskan perbedaan arti dan makna dari “Maharaja ( huáng / 皇 )”, “Kaisar ( dì / 帝 )”, “Raja ( wáng / 王 )”, “Hegemoni ( bà / 霸 )”, tetapi semuanya belum pernah ditetapkan sebagai nama orang.
“Tiga Maharaja dan Lima Kaisar” adalah “Kaisar-Kaisar” legenda Cina yang muncul sebelum Dinasti Xià. Sesuai hasil penelitian sekarang, mereka tersebut semuanya adalah ketua suku, dan oleh karena memiliki kekuatan dan pengaruh besar sehingga berhasil menjadi pemimpin dari gabungan berbagai suku. Qín Shǐ Huáng dalam rangka menunjukkan diri berkedudukan lebih tinggi dari mereka, memakai huruf “Maharaja” dari “Tiga Maharaja” dan huruf “Kaisar” dari “Lima Kaisar” yang dikomposisikan menjadi gelar “Kaisar ( huángdì / 皇帝 )” yang kita kenal sampai sekarang.
Baik berdasarkan mitologi legenda maupun catatan buku sejarah, semuanya beranggapan dan berkeyakinan bahwa zaman dari “Tiga Maharaja” adalah lebih awal dari pada zaman “Lima Kaisar”. Tetapi dari masing-masing sejarawan yang berbeda, terdapat definisi “Tiga Maharaja dan Lima Kaisar” yang berbeda. “Tiga Maharaja” ada lima versi dan “Lima Kaisar” juga ada lima versi.
Catatan paling awal tentang Tiga Maharaja ( sānhuáng / 三皇 )” muncul dalam buku 《Catatan Sejarah Agung • Catatan Qín Shǐ Huáng》 pada tahun 221 SM ( tahun ke-26 Qín Shǐ Huáng ) menurut Lǐ Sī bahwa zaman kuno ada Maharaja Langit, Maharaja Bumi dan Maharaja Manusia sebagai Tiga Maharaja, dan di antaranya Maharaja Manusia dianggap paling agung.
Versi-versi dari Tiga Maharaja menurut berbagai buku dan kitab sejarah :
  • Suìrén, Fúxī, Shénnóng.
    • 《Báihǔ Tōngyì》.
    • 《Shàngshū Dàchuán》.
  • Fúxī, Shénnóng, Nǚwā.
    • 《Chūnqiūwěi • Yùndòushū》.
    • 《Catatan Sejarah Agung • Catatan Tiga Maharaja》.
  • Fúxī, Shénnóng, Zhùróng.
    • 《Báihǔ Tōngyì》
  • Fúxī, Shénnóng, Gònggōng.
    • 《Zīzhì Tōngjiàn • Wàijì》.
  • Fúxī, Shénnóng, Huángdì.
    • 《Dìwáng Shìjì》.
Versi terakhir oleh karena pengaruh dari 《Klasik Sejarah》 sehingga menjadi lebih popular. Fúxī, Shénnóng dan Huángdì menjadi Tiga Maharaja paling kuno di Cina.
Dari berbagai catatan sejarah tersebut diatas, Fúxī dan Shénnóng mendapatkan dua posisi yang pasti sebagai Tiga Maharaja, yang dalam berbagai versi boleh dikatakan hampir sama semua. Sedangkan posisi ketiga seharusnya siapa, terdapat perbedaan yang cukup besar.
Selain itu, dalam buku 《Norma Tata Krama》 dari Dinasti Hàn menyatakan Maharaja Langit, Maharaja Bumi dan Maharaja Manusia sebagai Tiga Dewa Langit.
Tiga Maharaja dalam Ajaran Tao
Ajaran Tao juga membagi Tiga Maharaja menjadi Awal ( chū / 初 ), Tengah ( zhōng / 中 ), Akhir ( hòu / 后 / 後 ) tiga kelompok :
  • Kelompok Tiga Maharaja Awal berbentuk manusia.
  • Tiga Maharaja Tengah bermuka manusia berbadan ular atau naga.
  • Tiga Maharaja Akhir.
    • Maharaja Langit Fúxī bermuka manusia berbadan ular.
    • Maharaja Bumi Nuwa bermuka manusia berbadan ular.
    • Maharaja Manusia Shénnóng bermuka sapi berbadan manusia.
Penempatan posisi kedewaan menurut Ajaran Tao adalah :
  • Tiga Dewa Murni ( sānqīng / 三清 ).
    • Yùqīng ( 玉清 ) Yuánshǐ Tiānzūn ( 元始天尊 ).
    • Shàngqīng ( 上清 ) Língbǎo Tiānzūn ( 灵宝天尊 / 靈寶天尊 ).
    • Tàiqīng ( 太清 ) Dàodé Tiānzūn ( 道德天尊 ).
  • Maha Kaisar Langit ( yùhuáng dàdì / 玉皇大帝 ).
  • Empat Dewa Kaisar ( sìyù / 四御 ).
    • Zhōngtiān Zǐwéi Běijí Dàdì ( 中天紫微北极大帝 / 中天紫微北极大帝 ).
    • Nánjí Chángshēng Dàdì ( 南极长生大帝 / 南极長生大帝 ).
    • Gōuchén Shànggōng Tiānhuáng Dàdì ( 勾陈上宫天皇大帝 / 勾陳上宮天皇大帝 ).
    • Hòutǔ Huángdìzhī ( 后土皇地祗 / 後土皇地祗 ).
Sedangkan penempatan posisi kedewaan menurut Ajaran Konghucu adalah :
  • Langit ( tiān / 天 ).
  • Leluhur ( zǔ / 祖) ( Tiga Maharaja dan Lima Kaisar ).
  • Agung ( shèng / 圣 / 聖 ).
    • Yang Teragung ( zhìshèng / 至圣 / 至聖 ) Kǒngzǐ.
    • Agung Kedua ( yàshèng / 亚圣 / 亞聖 ) Mèngzǐ.
    • Agung Perkasa ( wǔshèng / 武圣 / 武聖 ) Guānyǔ.
Kemudian juga ada penempatan posisi kedewaan menurut legenda rakyat maupun buku cerita pendek sebagai berikut :
  • Pángǔ.
  • Hóngjūn ( 鸿钧 / 鴻鈞 ).
  • Tiga Dewa Murni.
  • Nǚwā.
  • Tiga Maharaja.
  • Maha Kaisar Langit.
  • Empat Dewa Kaisar.
Dalam Ajaran Tao tidak ada Pángǔ dan Hóngjūn. Sebagian besar legenda rakyat dan buku cerita pendek menjadikan Pángǔ, Hóngjūn dan Yuánshǐ Tiānzūn sebagai satu orang yang sama. Ada juga yang menceritakan bahwa Pángǔ adalah kakak dan Hóngjūn adalah adik, setelah Pángǔ menjadi Tiga Dewa Murni, dia mengangkat Hóngjūn sebagai Maha Guru.

 Kedudukan Nǚwā

Sedangkan kedudukan Nǚwā, kadang-kadang berada diatas Tiga Maharaja, kadang-kadang berada di antara Tiga Maharaja, dan kadang-kadang malah berada dibawah Tiga Maharaja. Menurut cerita alasannya ada tiga :
  1. Dalam legenda ; Nǚwā menciptakan berbagai makluk dunia, sehingga kedudukannya sangat tinggi dan berada diatas Tiga Maharaja.
  2. Dalam legenda ; Fúxī dan Nǚwā adalah kakak beradik yang juga suami istri, dan merupakan satu keluarga, sehingga dalam daftar Tiga Maharaja, kadang-kadang ada keduanya, kadang-kadang cuma dipilih salah satu sebagai wakil. Dengan demikian, kedudukan Nǚwā berada di antara Tiga Maharaja.
  3. Oleh karena status buku 《Klasik Sejarah》 yang istimewa di antara buku dan kitab sejarah, sehingga pendapat tentang Fúxī, Shénnóng dan Huángdì sebagai Tiga Maharaja yang dipropaganda didalamnya mendapat pengakuan yang jauh lebih luas dari khalayak umum. Sedangkan keberadaan Nǚwā dari zaman Masyarakat Matriarkal, yang kemudiannya terganti oleh Masyarakat Patriarkal yang lebih menghargai kedudukan laki-laki, sehingga membuat kedudukan Nǚwā menjadi dibawah Tiga Maharaja.
Secara umum, tokoh-tokoh yang dimaksud dalam Tiga Maharaja merupakan simbol dari berbagai tahap kebudayaan yang berbeda dari leluhur Cina pada masa pra-sejarah. Yǒucháo, Suìrén dan Fúxī masing-masing mengwakili Tingkat Rendah、 Tingkat Menegah、Tingkat Tinggi, tiga tingkat masa Pra-Peradaban. Shénnóng mewakili Tingkat Rendah pada masa Barbarian. Sedangkan Nǚwā merupakan manusia dewa pada zaman genesis yang lebih awal, yang dalam legenda juga digabungkan dengan Fúxī dalam menciptakan manusia.
Pendapat umum tentang “Tiga Maharaja” adalah Suìrén, Fúxī dan Shénnóng, yang bermula dari masa Periode Musim Semi dan Musim Gugur dan Periode Negara Perang.

Lima Kaisar

Versi-versi dari Lima Kaisar ( wǔdì / 五帝 ) menurut berbagai buku dan kitab sejarah :
  • Huángdì, Zhuānxù, Kù, Yáo, Shùn.
    • 《Shìběn》.
    • 《Catatan Tata Krama Dài Besar》.
    • 《Catatan Sejarah Agung • Catatan Lima Kaisar》.
  • Páoxī, Shénnóng, Huángdì, Yáo, Shùn.
  • Tàihào, Yándì, Huángdì, Shǎohào, Zhuānxù.
    • 《Klasik Tata Krama》.
  • Huángdì, Shǎohào, Zhuānxù, Kù, Yáo.
  • Shǎohào, Zhuānxù, Kù, Yáo, Shùn.
    • 《Pendahuluan Klasik Sejarah》.
    • 《Dìwáng Shìjì》.
Versi terakhir oleh karena kedudukan kitabnya yang sangat dihargai, sehingga karya-karya sejarah seterusnya cenderung banyak yang memakai versi ini. Sehingga versi dari Tiga Maharaja dan Lima Kaisar ini dihargai sebagai catatan sejarah kuno yang paling dipercayai.

Lima Kaisar dalam Ajaran Konghucu

Lima Kaisar Langit Awal ( xiāntiān wǔdì / 先天五帝 ) dalam Ajaran Konghucu ( yang juga menurut 《Zhōulǐ • Tiānguān》 karya Jiǎ Gōngyàn dari zaman Dinasti Táng ) adalah :
  • Tengah ; Huángdì ( 黄帝 ~ 黃帝, Kaisar Kuning ) Hánshūniǔ ( 含枢纽 / 含樞紐 )
  • Timur ; Qīngdì ( 青帝, Kaisar Hijau ) Língwēiyǎng ( 灵威仰 / 靈威仰 )
  • Selatan ; Chìdì ( 赤帝, Kaisar Merah ) Chìbiāonǔ ( 赤熛弩 )
  • Barat ; Báidì ( 白帝, Kaisar Putih ) Báizhāojù ( 白招拒 )
  • Utara ; Hēidì ( 黑帝, Kaisar Hitam ) Yèguāngjì ( 叶光纪 / 葉光紀 )
Ada legenda yang menggunakan dewa dari lima arah sebagai “Lima Kaisar”. “Lima Kaisar” dalam 《Phraseologi Chǔ • Xīsòng》 karya Wáng Yì dari zaman Dinasti Hàn Timur adalah Dewa Lima Arah. Serta oleh Lǚ Bùwéi dalam bukunya 《Kronik Sejarah Lǚ Bùwéi》 dari empat kaisar yang semula dipuja oleh Negara Qín ( 秦 ) ( Báidì, Qīngdì, Huángdì, Yándì ) ditambah dengan Hēidì menjadi Lima Kaisar yang mengatur Empat Arah, Empat Musim dan Lima Eleman, masing-masing :yakni :
  • Timur : Tàihào Elemen Kayu, Musim Semi.
  • Selatan : Yándì Elemen Api, Musim Panas.
  • Barat : Shǎohào Elemen Logam, Musim Gugur.
  • Utara : Zhuānxù Elemen Air, Musim Dingin.
  • Pusat ( Tengah ) : Huángdì Elemen Tanah.

Lima Kaisar dalam Ajaran Tao

Sedangkan dalam Ajaran Tao juga ada versi “Lima Kaisar” yang dikenal dengan sebutan Wǔlíng Wǔlǎo Tiānjūn ( 五灵五老天君 / 五靈五老天君 ) :
  • Timur : Ānbǎo Huálín Qīnglíng Shǐlǎo Jiǔqì Tiānjūn ( 安宝华林青灵始老九炁天君 / 安寶華林青靈始老九炁天君 ).
  • Selatan : Fànbǎo Chāngyáng Dānlíng Zhēnlǎo Sānqì Tiānjūn ( 梵宝昌阳丹灵真老三炁天君 / 梵寶昌陽丹靈真老三炁天君 ).
  • Barat : Qībǎo Jīnmén Hàolíng Huánglǎo Qīqì Tiānjūn ( 七宝金门皓灵皇老七炁天君 / 七寶金門皓靈皇老七炁天君 ).
  • Utara : Dòngyīn Shuòdān Yùjué Wǔlíng Xuánlǎo Wǔqì Tiānjūn ( 洞阴朔单郁绝五灵玄老五炁天君 / 洞陰朔單郁絕五靈玄老五炁天君 ).
  • Tengah : Yùbǎo Yuánlíng Yuánlǎo Yīqì Tiānjūn ( 玉宝元灵元老一炁天君 / 玉寶元靈元老一炁天君 ).
Sebenarnya, perbedaan legenda tentang Tiga Maharaja dan Lima Kaisar merupakan produk dari perkembangan beragamnya suku bangsa di Cina, yang secara komplikasi merefleksikan perkembangan dari pembauran antar suku bangsa. Jauh sebelum memasuki zaman beradab, diatas tanah air Cina yang luas, sudah terbentuk Suku Huáxià ( 华夏 ), Suku Miáo ( 苗 ) dan berbagai saudara suku yang pada waktu itu disebut oleh Suku Huáxià sebagai Suku Mán ( 蛮 / 蠻 ), Suku Yí ( 夷 ), Suku Róng ( 戎 ), Suku Dí ( 狄 ) dan sebagainya.
Mengatakan Suku Huáxià sebagai keturunan dari Huángdì dan Yándì, sebenarnya merupakan refleksi dari Suku Huáxià sebagai representasi dari dua suku bangsa yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan yang diwakili oleh Huángdì dan Yándì, yang terbentuk melalui suatu masa perkembangan yang panjang.
Tokoh-tokoh yang dimaksud dalam Lima Kaisar merupakan manusia, yang pada umumnya merupakan pemimpin kelompok suku atau pemimpin militer pada masa jaya gabungan kelompok suku kepemimpinan paterineal dan atau masa kehancurannya, ataupun pelaksana militer atau kerakyatan pada masa akhir masyarakat pra-sejarah.
Pendapat umum tentang “Lima Kaisar” adalah Huángdì, Zhuānxù, Kù, Yáo, Shùn, yang bermula dari masa Periode Musim Semi dan Musim Gugur dan Periode Negara Perang .

Empat Karya Sastra Cina yang Paling Terkenal dalam Sejarah

Empat Karya Sastra Termasyhur adalah:
”Kisah Tiga Negara” (karya Luo Guanzhong, jaman Dinasti Ming)
”Batas Air” (karya Shi Nai-an, jaman Dinasti Ming)
”Perjalanan ke Barat” (karya Wu Cheng-en, jaman Dinasti Ming)
”Jin Ping Mei” (karya Lanlin Xiaoxiaosheng, jaman Dinasti Qing)
Namun kalangan pengamat sastra Tionghoa di Jepang mengemukakan versi lain bahwa Impian Paviliun Merah dari zaman Dinasti Qing jauh melebihi pamor Jin Ping Mei. Untuk ini di kemudian hari ada istilah Empat Tulisan Termasyhur (…) yang menggantikan Jin Ping Mei dengan Impian Paviliun Merah.
Kisah Tiga Negara


Kata pembukaan novel Kisah Tiga Negara; Seluruh kekuatan di dunia, bersatu untuk bercerai dan bercerai untuk bersatu kembaliKisah Tiga Negara (Hanzi: 三國演義, hanyu pinyin: sānguó yǎnyì, Bahasa Inggris: Romance of the Three Kingdoms) adalah sebuah roman berlatar-belakang sejarah dari zaman Dinasti Han dan Tiga Negara. Di kalangan Tionghoa di Indonesia, kisah ini dikenal dengan nama Samkok yang merupakan dialek Hokkian dari sanguo atau tiga negara.
Sering orang salah kaprah akan perbedaan Kisah Tiga Negara atau Kisah Tiga Kerajaan mengingat terjemahan bahasa Inggris dari roman ini adalah Romance of the Three Kingdoms, namun pada sebenarnya, yang tepat adalah Kisah Tiga Negara mengingat pada klimaks roman ini, ketiga pemimpin yang bertikai; Cao Cao, Liu Bei dan Sun Quan masing-masing telah memaklumatkan diri sebagai kaisar dan mengklaim legitimasi sebagai kekaisaran yang mewarisi Dinasti Han yang telah runtuh.
Roman ini ditulis oleh Luo Guanzhong (羅貫中), seorang sastrawan dinasti Ming yang mengambil referensi dari literatur sejarah resmi mengenai Zaman Tiga Negara di Tiongkok dimulai dari penghujung Dinasti Han, pecahnya Tiongkok ke dalam tiga negara dan kemudian dipersatukan kembali di bawah Dinasti Jin. Selain dari sejarah resmi, Luo juga mengambil referensi dari cerita rakyat turun temurun yang dituturkan secara lisan di masyarakat pada masa hidupnya.
Kisah Tiga Negara adalah salah satu karya sastra klasik yang paling populer di dalam sejarah Tiongkok. Luo menuliskan roman ini dalam 120 bab yang mempunyai alur cerita bersambung dengan referensi Catatan Sejarah Tiga Negara oleh Chen Shou dan sedikit imajinasinya sendiri. Ada sekitar lebih 400 tokoh sejarah yang diceritakan di dalam Kisah Tiga Negara yang dilukiskan dengan karakter berbeda. Cao Cao, Liu Bei dan Sun Quan sama sebagai karakter pemimpin namun berbeda dalam sifat dan pemikiran. Demikian pula penasehat Zhuge Liang, Xun You, Guo Jia dan Zhou Yu masing-masing berbeda pandangan dan wataknya. Setiap karakter mempunyai watak dan sifatnya sendiri yang berbeda satu sama lain. Penggambaran perbedaan watak karakter ini menjadikan roman ini diakui sebagai salah satu wakil dari puncak perkembangan sastra Tiongkok dalam sejarah. Kisah Tiga Negara ditulis dalam bahasa klasik
Batas Air


108 Pendekar Liang Shan (Hanzi: 水滸傳, hanyu pinyin: shui hu zhuan; bahasa Inggris: Water Margin, All Men are Brothers, Outlaw of the Marsh, 108 Bandits of Liang Shan; bahasa Jepang: Suikoden) adalah sebuah roman terkenal dari zaman Dinasti Ming.
Roman ini menceritakan realita kehidupan para bandit yang dipimpin oleh Song Jiang melawan kebengisan pemerintah Dinasti Song. Song Jiang sendiri adalah tokoh sejarah, namun di roman tentunya ia digambarkan sesuai imajinasi sang pengarang. Bagi kaum pemerintahan, mereka disebut bandit, tetapi bagi rakyat setempat mereka disebut pahlawan, karena mereka biasa merampok kaum orang kaya yang tidak baik dan korupsi yang kemudian dibagikan kepada orang miskin dan tidak mampu. Dalam sejarahnya, ada 108 bandit pahlawan yang terkenal dan mereka bersatu mengikat janji di Ruangan Kesetiaan (bahasa Inggris: Hall of Loyalty). Markas mereka berada di Gunung Liangshanpo, yang dikelilingi oleh laut dan air sehingga sulit diserang. Mereka memiliki anggota sampai puluhan ribu.
Pengarang roman ini adalah Shi Nai-an (Hanzi: 施耐庵) dengan bantuan Luo Guanzhong. Namun sebenarnya, ada dugaan bahwa tidak ada orang bernama Shi Nai-an dan Shi Nai-an adalah nama samaran dari Luo sendiri. Namun versi lain yang lebih populer adalah Shi Nai-an menuliskan novel ini, Luo bertindak sebagai editor dan menambahkan 30 bab terakhir daripada novel ini.
Perjalanan ke Barat


(Hanzi: 西遊記, hanyu pinyin: xi you ji, bahasa Inggris: Journey to The West) adalah sebuah karya sastra terkenal dari zaman Dinasti Ming. Novel ini menceritakan banyak mitologi klasik pertentangan antara baik dan buruk yang bertemakan seorang pendeta dari zaman Dinasti Tang yang mengambil kitab suci ke barat, dalam hal ini ke India. Di kalangan Tionghoa di Indonesia, novel ini dikenal dengan nama See Yu Ki yang merupakan dialek Hokkian dari Xi You Ji.
Walaupun tokoh pendeta yang digambarkan di dalam novel ini merupakan pendeta Xuanzang, namun deskripsi pendeta Tong bertolak belakang dengan karakter asli Xuanzang yang hidup di masa Dinasti Tang itu.
Novel ini selesai ditulis oleh Wu Cheng-en (Hanzi: 吳承恩) sekitar pertengahan abad ke-16 dan kemudian populer sebagai bacaan di seluruh Tiongkok dan juga adalah salah satu dari 4 karya sastra terbaik di dalam sejarah sastra Tiongkok bersama Kisah Tiga Negara, Batas Air dan Impian Paviliun Merah
Jin Ping Mei


(Hanzi: 金瓶梅) adalah sebuah karya sastra terkenal dari zaman Dinasti Ming. Jin Ping Mei adalah novel pertama yang menggunakan gaya bahasa vernakular (sehari-hari) dalam penulisannya, berbeda dari novel-novel klasik lainnya yang menggunakan bahasa klasik.
Pengarang novel ini adalah sastrawan Dinasti Ming bernama Lanling Xiaoxiao Sheng (Hanzi: 蘭陵笑笑生). Mengambil tema kehidupan sehari-hari beberapa karakter yang diambil dari novel Batas Air. Seperti juga Impian Paviliun Merah, novel ini juga adalah cerminan kehidupan masyarakat di Tiongkok di zaman dulu. Yang pertama adalah di zaman Qing dan yang terakhir di zaman Ming.
Alur cerita dimulai dari sepenggal kisah di dalam Batas Air di mana Ximen Qing menggoda Pan Jinlian dan berkomplot membunuh suaminya, Wu Dalang. Cerita kemudian meneruskan menggambarkan kehidupan vulgar Ximen Qing sampai akhirnya ia dibunuh oleh Wu Song, adik Wu Dalang.
Kevulgaran alur cerita novel ini kemudian menyebabkan novel ini dianggap sebagai novel erotis dan tidak diakui sebagai novel bermutu. Namun seiring perkembangan dinamis masyarakat, novel ini mendapatkan statusnya sebagai salah satu karya sastra terbaik dalam sejarah sastra Tiongkok. []