Tampilkan postingan dengan label Alien and UFO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alien and UFO. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

Benarkah Bahtera Nuh Berasal Dari Mars?


Legenda mengatakan bahwa bahtera Nuh berada di Gunung Ararat, tetapi lukisan gua Pech Merle Perancis dibuat antara tahun 17,000 SM hingga 15,000 SM menjelaskan lanskap penuh satwa liar dengan sejumlah benda berbentuk piring. Salah satu lukisan benar-benar menunjukkan sosok seorang pria memandang salah satu piring terbang.

Kebanyakan orang menganggap Erich von Daniken dan Zechariah Stichen sebagai orang-orang yang familiar dalam gagasan cerita alien kuno. Brinsley Le Poer Trench seorang warga Inggris yang juga sebagai anggota House Of Lords di Parlemen Inggris mendukung pernyataan tersebut sejak awal tahun 1960-an.
Legacy Of The Sky People karya Timothy Green Beckley, menuliskan tentang masa lalu mengungkapkan pernyataan yang diperluas dari Brinsley Le Poer Trench tentang Manusia langit, merupakan salah satu buku yang pertama kali membangun konsep Astronot Kuno.

Bahtera Nuh Kenderaan Aneh Planet Mars

Kisah Trench dimulai pada tahun 1960-an ketika Beckley baru bekerja sebagai jurnalis dan penerbit berita UFO. Keduanya penggemar piring terbang yang saling bertukar publikasi dan saling ber-korespondensi selama bertahun-tahun. Pada tahun 1970-an, Trench mengundang Beckley berbicara sebelum komite khusus UFO di House Of Lords di London. Sebagian gagasan kehidupan yang ada di planet lain atau di sistem tata surya lain umumnya dapat diterima orang-orang yang lebih muda. Sedangkan di tahun 1950-an dan 1960-an, hampir semua orang menolak pernyataan itu.
Beckley tidak hanya menulis ulang buku Trench, dia menambahkan materi baru dari beberapa penulis terbaik di Ufology dengan studi pribadi mereka tentang teori astronot kuno. Seperti Nick Redfern, salah satu peneliti duniaparanormal yang terkenal yang memberikan kontribusi membahas kisah bahtera Nuh.
Cerita bahtera Nuh dan banjir besar yang menghancurkan dunia dimana Tuhan membiarkan beberapa manusia yang hidup dan terdiri dari sepasang makhluk hidup, juga merupakan bagian integral dari tradisi keagamaan lainnya seperti Sumeria, Babilonia, dan Hindu kuno. Redfern menjelaskan bagaimana kisah manusia diperintahkan untuk membangun sebuah kapal tempat penampungan sisa-sisa umat manusia dari bencana dunia adalah salah satu mitos agama yang paling universal.
bahtera Nuh, ararat
Bahtera Nuh di gunung Ararat / Credit: noahsarksearch.com
Legenda mengatakan bahwa bahtera Nuh berada di Gunung Ararat, Turki. Redfern menceritakan kisah menarik di tahun 1949 tentang awak pesawat Angkatan Udara AS memfoto struktur anomali menonjol diantara es dan salju Gunung Ararat dan selama beberapa dekade militer dan intelijen berusaha memahami obyek misterius tersebut.
Redfern menyatakan bagaimana benda anomali tersebut dianggap suatu benda logam, bukan kayu konstruksi bahtera Nuh dan mungkin merupakan sebuah pesawat alien yang jatuh.
Redfern menceritakan, ketika mengalami kontak dengan alien ditahun 1950, Malai Van George berpartisipasi dalam mengungkap misteri di puncak Gunung Ararat, mereka berada di bawah pengawasan CIA dan FBI. Informasi tentang struktur ini kemudian berkembang, tapi pemerintah bertekad menutup-nutupi hal tersebut.
Beberapa cerita yang dipaparkan dalam buku ini juga mengutip pernyataan Brad Steiger, salah satu penulis paling produktif supranatural dunia, dan Giorgio seorang juru bicara resmi Erich von Daniken. Steiger pernah menghadiri konferensi Astronot Kuno pada awal tahun 1980 di mana pembicara utama lainnya adalah Erich von Daniken, Josef Blumrich (penulis ‘The Spaceships Yehezkiel’).
Gagasan Trench menyatakan bahwa Nuh adalah orang Israel kuno, dia seorang pemimpin besar di Mars dan Tabut merupakan pesawat ruang angkasa raksasa yang dimaksudkan untuk membawa sisa-sisa peradaban kuno yang masih hidup ke Bumi, mirip dengan konsep bahtera Nuh. Manusia mungkin telah direkayasa secara genetis oleh ras unggul yang berasal dari Mars dan membawa kehidupan ke Bumi dengan alasan yang tidak diketahui.
Jika kita membuat spesies cerdas di laboratorium, itu tidak membuat kita sebagai Tuhan. Makhluk luar angkasa tidak makhluk halus, mereka ber-daging dan ber-darah, secara fisik terdiri dari atom dan molekul yang sama.
Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa makhluk luar angkasa terlihat sama seperti kita. Bahkan makhluk luar angkasa memiliki hal yang sama persis tentang kehidupan, kematian, dan agama. Seluruh ide yang menjelaskan bahwa makhluk luar angkasa terlihat seperti pada film Alien atau Independence Day, hanya stereotip Hollywood.

Bukti Yang Membingungkan Tentang Bahtera Nuh

Gua lukisan di Tanzania, diperkirakan berusia hingga 29,000 tahun menggambarkan beberapa disk berbentuk objek yang melayang di atas lanskap. Lukisan lain menunjukkan entitas empat humanoid yang disekitarnya seorang wanita sementara entitas lain tampak turun dari langit melalui semacam kotak.
lukisan gua Pech Merle
Lukisan hewan di gua Pech Merle / Credit: donsmaps.com
Kemudian di dalam gua Pech Merle Perancis, lukisan dibuat antara tahun 17,000 SM hingga 15,000 SM yang menunjukkan lanskap penuh satwa liar dengan sejumlah benda berbentuk piring. Salah satu lukisan benar-benar menunjukkan sosok seorang pria memandang salah satu piring terbang.
Di Australia utara ada sejumlah lukisan gua mungkin lebih dari 5000 tahun, yang menunjukkan adanya makhluk aneh dengan kepala dan mata besar, memakai pakaian seperti setelan ruang angkasa. Suku Aborigin menyebutnya makhluk Wandjina dan menurut legenda bahwa Wandjina turun dari bintang-bintang Bima Sakti dan menciptakan bumi dan semua penghuninya.
Kitab Genesis berisi dua versi yang berbeda dari Kisah Penciptaan dan mitos bahtera Nuh dalam Banjir Besar. Hal ini membingungkan para sarjana Alkitab selama bertahun-tahun, mereka percaya bahwa versi berbeda mungkin dicangkokkan bersamaan dengan tradisi sebelumnya secara lisan dan tertulis.
Kemudian cerita tentang Penciptaan berbeda, dua ras berbeda diciptakan oleh dua Pencipta yang berbeda, yang satu disebut Elohim dan satunya lagi disebut Jehovah. Elohim menciptakan bentuk pria yang bertelepati, cerdas dan sensitif. Yehuwa menciptakan bentuk manusia yang lebih primitif, dirancang untuk mengolah kebun para Dewa di Bumi dan hal lain yang dapat diperbudak dan patuh. Kedua ras telah bertahan hingga zaman modern, tetapi bentuk superior dari manusia yang diciptakan Elohim akhirnya akan menang.
Alien kuno masih hidup bersama manusia hingga hari ini, beberapa dari mereka hidup di antara kita dan tak terlihat, bekerja, membangun keluarga dan kegiatan sehari-hari sama seperti yang kita lakukan.
Hal ini disinggung para peneliti UFO (Budd Hopkins) yang menyatakan bahwa makhluk alien atau manusia hybrid yang muncul secara fisik sama dengan manusia, berjalan di antara kita yang dilengkapi dengan telepati dan kekuatan supranatural. Mereka adalah alien yang sama, dan akan mencegah manusia dari kebinasaan akibat tangan manusia sendiri melalui senjata nuklir atau pengrusakan ekologi.
Mungkin, dalam persepsi dan pandangan agama sangat bertentangan dengan gagasan ini, tetapi bahtera Nuh hingga saat ini masih menjadi misteri dan beberapa catatan sejarah menjelaskan adanya unsur-unsur aneh didalamnya.

Shining Ones, Iblis Yang Bersinar



Teks kuno menyebutkan bahwa Shining Ones merupakan guru dari umat manusia, yang membantu manusia, yang tak lain adalah iblis yang bersinar.
Dan artikel saya kali ini akan melibatkan pemikiran ilmiah tentang sejarah masa lalu dan pencapaian teknologi saat ini. Pada kenyataannya, shining ones mempunyai banyak arti yang sering disalah terjemahkan manusia, pada hakikatnya mempunyai tujuan menghancurkan peradaban manusia.
Dari apa yang saya temukan dalam berbagai sumber tulisan diantaranya The Shining Ones: The World’s Most Powerful Secret Society Revealed karya Philip Gardiner, dan Tales from the Grave: An Anthology of True Ghost Stories karya Tammy A.Branom dkk. Disini saya hanya menyertakan sumber dari teks-teks kuno walaupun sebenarnya memiliki persamaan dengan kitab-kitab agama, tapi coba cari sendiri sesuai keyakinan Anda.

Shining Ones Karya Iblis

Alam semesta terlalu besar dan setiap tanda-tanda keberadaan makhluk ekstrateresterial sangat kecil kemungkinannya agar bisa menemukan kita. Entitas dunia kita, baik secara dimensi ekstra ataupun ultra merupakan penjelasan yang lebih logis sebagai sumber utamanya. Seperti dugaan Albert Einsteintentang adanya waktu, masa lalu, sekarang, masa depan, sepanjang waktu dan bukan hanya dari waktu ke waktu seperti yang kita rasakan tanpa pemikiran ilmiah. Dalam pikiran seseorang atau kelompok yang memiliki pengetahuan dimensi, maka waktu bisa dilalui.
Makhluk-makhluk ekstrateresterial muncul dalam teks-teks kuno, mitos, dan agama-agama di seluruh dunia. Era Baru dan perkiraan lainnya sering menyatakan istilah Yang Bersinar (Shining Ones) yang diyakini kebenarannya. Tapi sebagian besar referensi tidak benar mengartikan Shining Ones sesuai namanya, melainkan entitas dari deskripsi yang sama. Seperti yang tertulis pada ‘Egyptian Book Of The Dead‘:
Chapters of Coming Forth By Day: “Behold, oh ye shining ones, ye men and gods…”
Chapter 134 – 15/17: “Behold, oh ye shining ones, ye men and gods…”
Shining Ones yang dimaksud, dalam lingkup terbatas diwilayah Mesir, kepercayaan Pagan, Alkitab Kristen, tulisan-tulisan Yunani kuno, dan tablet Sumeria.
Pada dasarnya ‘Shining Ones’ membuat dirinya dikenal di berbagai tempat di seluruh dunia, lebih cerdas daripada manusia, mengajarkan manusia berbagai informasi yang diperlukan dan penampakannya secara visual benar-benar “Bersinar” atau direferensikan memiliki sinar cahaya yang berseri-seri.
Catatan yang sama juga mengacu pada ‘Bersinar’ yang dapat dengan mudah diartikan sebagai manusia yang “Tercerahkan” baik secara agama atau pendidikan. Shining Ones dalam catatan Mesir adalah mungkin sebagai referensi Raja Mesir yang dianggap Dewa dan manusia dengan garis keturunan langsung dari Dewa mereka.
Deskripsi ini memang bisa menjadikan manusia ditinggikan derajatnya, tetapi oleh siapa? ‘Tercerahkan’ dapat diartikan bijaksana, berpendidikan, murni, ilahi/Dewa atau kuat, yang bisa menggambarkan siapa saja yang orang-orang terdahulu melihat dalam istilah-istilah tradisi. Kemudian pada akhirnya penelusuran silsilah akan berakhir pada pangkal dan satu pertanyaan: “Siapa yang mengajarkan?”

Siapakah Shining Ones?

Ada banyak cerita tentang Shining Ones. Bidadari atau Peri dan Elves (Peri Cahaya dan Dark Elves) yang berasal dari mitologi Celtic memiliki referensi sebagai Shining Ones. Lugh dari Pan-Celtic disebut Shining Ones, Dewa Perang Belatucadros dari Celtic-Inggris disebut Fair Shining Ones, Dewa Hindu disebut Shining Ones, dan juga Archangel Michael disebut sebagai Bersinar, bahkan istilah UFO juga sering disebut Shining Ones.
Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak penyebutan ‘Bersinar’ seperti Dewa Mars, Dewa Pahlawan, Elohim, para Annunaki, para Penjaga, iblis, malaikat, Dewa utama, Dewa yang lebih rendah, Tuhan, imam, dan Nabi. Meskipun demikian, mereka semua adalah ‘Pembantu’ atau pendidik umat manusia. Referensi yang ada mungkin sangat kuno, Shining Ones atau yang Bersinar disebutkan dengan nama yang tidak umum dalam tulisan kuno, seolah-olah mereka hanya hadir ketika diperlukan, mungkin ketika kondisi sangat memungkinkan atau mengalami gangguan ruang waktu.
Selain itu, ada pendapat bahwa yang ‘Bersinar’ sebenarnya cahaya. Tetapi sangat diragukan, mungkin ‘Bersinar’ telah mengalami arti ganda tergantung pada konteks. Atau, bagaimana jika yang ‘Bersinar’ disalah tafsirkan. Seperti penafsiran berkulit pucat, pakaian terang atau putih, mirip dengan penggambaran Lugh (Celtic), bahkan Annunaki Sumeria juga berkulit putih.
Siapa, dan dimana sebenarnya Shining Ones atau yang ‘Bersinar’? Teks kuno menyatakan bahwa mereka datang dari langit, seperti surga atau angkasa. Ada deskripsi dalam beberapa kitab suci yang melibatkan reinkarnasi jiwa dengan cerita naik (berangkat) ke surga dan kembali turun kembali ke Bumi, seolah-olah hanya jiwa atau energi dari jasad yang ditinggalkan.
Dalam kepercayaan Dewa Hindu, penghuni pesawat astralnya lebih tinggi. Deva adalah guru dan pelindung umat manusia, mereka juga datang kepada manusia melalui mimpi dengan berbagai pesan. Ada Dewa yang turun dengan pesawat astral lebih rendah, atau hanya menempatkannya di sekitar kita. Para Dewa yang turun dapat melakukan perbuatan baik dan bereinkarnasi menjadi Deva baik yang kemudian dikembalikan ke pesawat yang lebih tinggi.
Dalam persepsi mungkin pesawat astral berasal dari dimensi lain dan energi atau jiwa yang dibawa belum tentu mati, melainkan makhluk hidup dimensi lain. Mereka turun dari langit, mungkin ketika pintu antar dimensi dibuka maka perbedaan antara planet Bumi dan tempat mereka membuat sebuah ‘lompatan’.
Dalam catatan teks kuno disebutkan: “Dia melihat Malaikat naik dan turun ke surga pada ‘tangga’ yang semuanya berkilau.”

Makhluk Ekstrateresterial Menembus Ruang Waktu

Sekarang, mari kita berfikir secara ilmiah, dengan menggunakan logika Fisika Kuantum. Apakah Anda pernah membayangkan bahwa makhluk luar angkasa akan naik dan turun melalui tangga? Tangga sepanjang jalan ke surga, maka mungkin belum tentu tangga, melainkan gambaran sederhana dari ‘orang-orang melintasi jalan tersebut’. Lintasan itu adalah pemisah dimensi kita, dimensi yang memisahkan manusia dengan Dewa, malaikat, setan dan iblis.
Bagaimana dengan Surga dan Neraka? Seperti yang disebutkan, naik ke atas artinya surga. Neraka tidak di planet lain, melainkan eksistensi dimensi yang lain, ataukah neraka berada di bumi? Kitab Henokh menceritakan bahwa “Mikail kemudian mengikat Samyaza dan keturunannya yang jahat selama 70 generasi di dunia bawah (bumi), bahkan sampai hari penghakiman.”
Teks kuno menyebutkan bahwa Shining Ones (yang bersinar) adalah guru dari umat manusia, yang membantu manusia. Beberapa teks kuno menunjukkan bahwa mereka memainkan peranan dalam penciptaan manusia. Malaikat yang turun justru merupakan kutukan karena mereka mengajarkan cara-cara surga (sihir) kepada manusia dan mengawini mereka. Shining Ones, atau yang ‘Bercahaya’ merujuk pada kutukan ‘jatuh, terbuang, ular, dan Annunaki’.
Kisah Joan Of Arc yang diberi pedang oleh seorang Malaikat, ketika dia memegang pedang itu maka kemenangan menjadi miliknya, sama halnya dengan cerita legenda Raja Arthur. Legenda Amakuni Yasutsuna dan putranya, Amakura yang berdoa kepada Dewa Shintountuk mendapatkan desain pedang baru, mereka berdua menerima pesan illahi berupa mimpi pisau, bersinar bermata tunggal dan melengkung. Kemudian pedang ini menjadi senjata standar pada waktunya. Tapi bagaimana jika kisah legenda itu didasarkan pada kebenaran?
Shining ones, iblis, malaikat
Pertemuan Shining Ones / Credit: dark.pozadia.org
Semua orang di zaman kuno dibantu oleh entitas saleh dan pengetahuan yang diberikan berupa hadiah ‘perang’. Perang secara inheren yang dibangun ke dalam diri manusia, makhluk ini sedang bermain. Seperti yang pernah saya tuliskan pada artikel yang lalu (Kitab Henokh Ungkap Peradaban Lemuria Zaman Idris) disebutkan:
Azazyel menciptakan perlengkapan tidak wajar untuk istrinya seperti riasan mata dan gelang mewah untuk meningkatkan daya tarik seks. Sedangkan untuk pria, Azazyel mengajarkan mereka ‘setiap jenis kejahatan’ termasuk sarana untuk membuat pedang, pisau, perisai, pakaian perang dan semua peralatan perang (8:1-9)
Sama halnya dengan di negeri kita, banyak orang yang berkeyakinan bahwa mereka mendapatkan wangsit berupa keris atau senjata lain. Kebanyakan mereka bertemu dengan sosok yang ‘Bercahaya’, bersinar, berbaju putih, atau gambaran lain yang memang mirip dengan Shining Ones. Itu sebabnya dalam ajaran Islam sangat dilarang menyakini benda, karena Iblis tetap berusaha membuat seluruh keturunan Adam tetap berada dalam lingkaran perang dan sihir.
Malaikat, Iblis, Dewa, Annuaki dan penampakan penampakan UFO yang terus meningkat adalah teknologi mereka. Jangan berpikir teknologi itu diberikan kepada manusia, tapi frekuensi yang dipancarkan dari semua benda elektronik yang ada di bumi maupun di luar angkasa, mungkin memiliki efek yang tidak diketahui.

Ruang Waktu Dimensi Iblis Dan Manusia

Banyak teks kuno menyatakan bahwa orang mati yang bangkit kembali dan berjalan di antara makhluk yang hidup. Mereka tidak hanya bangkit, melainkan teknologi telah melanggar ‘ruang waktu’ disekitar planet kita dan kita bisa melihat semua orang yang terjadi di masa lalu, sekarang, masa depan, ekstrateresterial dan ultra dimensi.
Jika orang tidak memahami dimensi dan fisika kuantum, maka mereka pasti percaya orang-orang menjadi hantu dan berada disekitar kita.
Artikel yang lalu saya menuliskan tentang perjalanan waktu walaupun hanya berupa kesaksian yang belum tentu benar. Jika manusia telah menemukan pintu ruang waktu yang kemungkinan besar bisa menembus ruang antar dimensi seperti yang diperkirakan Albert Einstein, ini adalah teknologi terhebat tiada tanding. Manusia akan mengetahui kebenaran siapa sebenarnya Shining Ones atau yang Bercahaya, Annunaki, Iblis, Malaikat, apapun sebutan makhluk ET (ekstrateresterial), yang semua itu melalui perjalanan ruang waktu antar dimensi. Bahkan mungkin saja manusia bisa melakukan perjalanan menuju surga seperti para nabi. Dan misi sang Iblis, Setan, makhluk bercahaya, akan berakhir ketika manusia mengetahui siapa mereka, ketika itu manusia akan meyakini satu sang Pencipta.
Pada saat pencapaian teknologi ruang waktu antar dimensi, maka sang Pencipta akan bertindak, peradaban manusia mungkin akan berakhir atau kembali pada peradaban pra sejarah, lebih buruk lagi benar-benar Kiamat. Yang paling penting adalah memahami shining ones, iblis yang bercahaya didalam mimpi maupun dunia nyata.

Dewa Kuno Ciptakan Tradisi Sama Di Seluruh Dunia


Dewa Kuno mengajarkan tradisi yang sama diseluruh dunia, dimulai dari pembuatan struktur bangunan piramid, pemujaan, tarian, hingga simbol-simbol yang sama diseluruh budaya.

Jauh sebelum kedatangan Colombus, suku asli daratan Amerika dan orang-orang didaratan Eropa dan Mesir sudah berkomunikasi dan saling memahami tanpa perlu mempelajari bahasa masing-masing. Sebuah misteri peradaban yang mungkin belum bisa terpecahkan bagaimana mereka berhubungan satu sama lain, melalui simbol dan tradisi yang mirip.
Dalam beberapa tradisi keagamaan, legenda, dan adat istiadat penduduk asli Amerika sangat mirip dengan peradaban di Eropa pra-Colombus. Namun menurut pendapat sejarawam hal ini hanya kebetulan karena tidak ada kontak antara kedua daerah sebelum Columbus melintasi benua ini. Bangsa Viking mencapai Amerika Utara sebelum Colombus, Gavin Menzies dalam bukunya ’1434: The Year a Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance’ menjelaskan beberapa bukti yang menunjukkan bahwa sebuah armada China sebelumnya juga pernah mengunjungi daerah ini.

Tradisi Dewa Kuno Di Seluruh Dunia

Cukup banyak bukti adanya hubungan antara peradaban kuno dan Dunia Baru (dibentuk masa Colombus) yang sering berbentuk aspek-aspek tertentu dari agama Dewa Kuno dan dianut orang-orang di seluruh peradaban awal di dunia. Menurut legenda sejarah peradaban kuno bahwa manusia di bumi diajarkan oleh seorang Guru Besaryang mengunjungi dunia ini beberapa ribu tahun yang lalu, dan kemudian menghancurkan ras manusia kuno yang jahat dengan banjir besar, banjir yang diperkirakan banjir besar telah terjadi sekitar 3000 SM.
Chichen Itza, dewa kuno, piramid maya
Chichen Itza / Credit: mexicotoday.org
Cerita tentang kunjungan Dewa Kuno dimasa pra banjir besar diwariskan dari generasi ke generasi di seluruh dunia. Deskripsi yang sama diceritakan turun temurun, sama seperti yang diceritakan orang-orang di Mesir dan Amerika. Peralatan berteknologi tinggi konon dibawa Dewa Kuno yang dikabarkan memiliki beberapa fungsi dan terkait dengan penguasa di seluruh peradaban kuno dan Dunia Baru.
Simbolisme sering digunakan untuk mengekspresikan keyakinan agama, seperti simbol lingkaran konsentris dimana orang-orang Sumeria kuno menggunakannya ketika berhubungan dengan Dewa Ea. Batu ukiran di beberapa negara Eropa juga terukir di puncak gunung Amerika Selatan. Hal ini juga menjadi salah satu desain mistis di Gurun Nazca Peru dan disinggung dalam legenda Amerika Utara.
Desain Klasik Labyrinth ditemukan di berbagai belahan dunia dimulau dari Kepulauan Inggris hingga ke Mesir, India, Afghanistan dll. ‘Tanda positif yang dilingkari’ merupakan simbol populer di kedua di kalangan penduduk asli Amerika dan Celtic, dan ketika agama Kristen tiba di Eropa, hal itu diadopsi oleh Gereja sebagai bentuk salib.
Berbagai jenis hewan secara simbolis berhubungan dengan Dewa Kuno dan beberapa dari mereka menjadi objek untuk disebah. Beberapa hewan suci dikorbankan untuk para Dewa Kuno baik di peradaban terdahulu maupun di Dunia Baru. Seperti ular yang terkait dengan makhluk ekstra-terestrial dan dihormati selama ribuan tahun bahkan di negara-negara di mana tidak ada ular.

Dewa Kuno Dalam Legenda

Orang-orang merayakan festival dengan tarian ular bahkan ular hidup di rumah mereka. Ketika Pizarro tiba di Peru, suku Inca keliru berpikir bahwa Dewa dan teman-temannya telah kembali dan menjadi penguasa mereka. Atahualpa telah mengatur semuanya untuk bertemu dengan Spanyol di Cassamarca, di Kuil Ular di mana ular terukir disana.
Ada sesuatu yang istimewa dalam legenda ular Sumeria yang berhubungan dengan DewaAnnunaki yang ditemukan dalam legenda dan seni keagamaan di Timur Tengah, Mesir Kuno, Asia Tengah dan Barat Afrika. Hal ini juga ditemukan pada agama di Amerika Tengah, diantarasuku Aztec dan suku Maya.
Piramida banyak dibangun di berbagai wilayah dunia terbuat dari batu bata dan tanah liat. Bangunan ini dianggap sebagai monumen keagamaan atau makam bangsawan, seperti Gunung Olympus di Yunani Kuno yang dikaitkan dengan dewa. Untuk merasakan kedekatan manusia pada dunia para Dewa Kuno, maka kuil dibangun di tempat-tempat yang tinggi.
Tapi semua bangunan Dewa Kuno memiliki geometri suci sama yang dimasukkan ke dalam desain Piramida Mesir, Timur Tengah, Amerika Tengah dan Selatan. Dan kokain pernah ditemukan di beberapa mumi Mesir, tapi pernyataan ini ditolak secara konservatif karena menurut mereka tidak pernah terjadi hubungan antara Mesir dan Amerika yang menjadi sumber kokain.
Dewa Kuno berperan penting dalam agama terdahulu baik di peradaban kuno dan Dunia Baru, situs agama banyak yang selaras dengan Soltis dan Ekuinoks. Ursa dan Orion muncul dalam tradisi agama di benua Eropa, Amerika dan Afrika, terkait perbintangan dan keyakinan sama seperti Pleiades. Di banyak negara, musim pertanian dimulai ketika muncul bintang Pleiades dan upacara khusus dirayakan pada waktu tertentu sepanjang tahun. Beberapa kalender peradaban kuno dan Dunia Baru juga diatur melalui Pleiades.
Bukti menarik adanya kontak antara Amerika dan negeri Timur, Profesor Gualberto Zapata Alonzo dalam bukunya ‘An Overview of the Mayan World’ menyebutkan bahwa orang Indian Meksiko dan orang-orang Jepang dapat memahami bahasa satu sama lain tanpa menggunakan penerjemah.
Alonzo juga menyebutkan bahwa sebuah buku tahun 1969 yang ditulis Don Ignacio Magaloni Duarte (Educador del Mundo) melampirkan foto-foto mangkuk dari Babilonia dengan ornamentasi Maya dan Vas Asyur, dengan jenis yang sama dari desain yang ditemukan di kuil Maya. Ada juga angka suci (9) dalam beberapa agama awal khususnya diterpakan pada suku Maya dan Cina yang keduanya membangun struktur keagamaan sembilan tingkat. Jumlah yang sama sering muncul dalam mitologi Norse dan dalam banyak legenda di seluruh wilayah Utara.

Tradisi Misterius Olmecs

Olmecs, sampai saat ini tidak diketahui dari mana mereka berasal tetapi beberapa patung batu besar memiliki fitur Afrika, Semit dan Oriental yang menunjukkan bahwa Olmecs merupakan ras campuran. salah satu batu prasasti Olmec di La Venta terdapat representasi kelompok Dewa Kuno yang diidentifikasi sebagai Dewa Pencipta suku Maya. Dalam tradisi agama yang tercatat dalam Quiche-Maya Popul Vuh, sangat mirip dengan dewa-dewaSumeria kuno. Dan ada tradisi asli yang populer di Amerika Tengah terdengar seolah-olah diadopsi dari Kitab Kematian Mesir (Egyptian Book of the Dead).
Tidak ada arti khusus pada fitur Afrika dalam beberapa situs kepala batu Olmec tetapi beberapa peneliti alternatif telah mencoba untuk mengidentifikasi Olmec dengan suku-suku di Afrika. Legenda ular terkait Dewa Kuno di Afrika Barat dan Amerika Tengah, tradisi suku sangat mirip di Amerika Tengah-Barat dan Afrika Timur.
Banyak pernyataan kontroversial tentang hubungan antara peradaban kuno dan Dunia Baru, salah satunya penulisan Phoenix dan Ogham yang ditemukan di bebatuan Amerika Utara. Dikatakan bahwa pada tahun 1976 sisa-sisa Romawi kuno ditemukan 15 mil dari pantai Rio de Janeiro-Brazil. Ada juga legenda bahwa Pangeran Welsh (Madoc) dan para pengikutnya melakukan perjalanan kembali ke Amerika pada tahun 1170, dan Indian Mandan merupakan keturunan dari mereka.
Beberapa sarjana alternatif meyakini bahwa Easter Island di Pasifik merupakan bagian dari benua yang hilang, yang bisa dibuktikan melalui patung-patung misterius batu bertelinga panjang. Salah satu legenda Easter Island memiliki kemiripan cerita legenda yang sama dengan orang-orang di Polinesia Hawaii dan di antara masyarakat asli Amerika.
Banyak sejarawan mengabaikan fakta bahwa tradisi beberapa penduduk asli Amerika Utara sangat mirip dengan peradaban awal Amerika Tengah dan Selatan. Dan akhirnya pergantian kalender Maya Desember 2012 telah disalahpahami, hal ini bukan cerita akhir dunia walaupun banyak orang khawatir dan meyakini. Padahal tanggal ini sangat penting dalam tradisi keagamaan suku Maya terkait Dewa Kuno.

Kamis, 20 September 2012

Benarkah Alien Adalah Dewa Pencipta Manusia?



Alien, dan mereka yang disebut para ‘Dewa’ akan mengontrol energi dari seluruh galaksi. Bukan berdasarkan pada molekul karbon, tetapi merupakan kecerdasan Manusia Super, tak terkecuali malaikat.
Peradaban masa lalu tetap menjadi misteri, dan manusia terus berusaha tanpa henti hingga menemukan jawaban sesungguhnya tentang awal terbentuknya peradaban manusia dan Dewa. Bagi ilmuwan, terjemahan alkitab tidak akan pernah mencukupi hasrat mereka untuk menggali lebih dalam tentang pencitaan manusia primitif yang men-Dewa-kan Alien. Artikel saya hari ini akan memberikan sedikit penjelasan yang berkaitan denganAlien dan Dewa Kuno berdasarkan sebuah teori, atau lebih tepatnya hipotesis dari beberapa ilmuwan, salah satunya Michio Kaku.

Alien Dan Sejarah Peradaban Manusia

Sebuah teori muncul di tahun 1968 tentang hipotesis untuk merenungkan kemungkinan makhluk luar angkasa(Alien) ketika mereka turun ke Bumi di masa lalu dan membangun ajaran agama. Penulis Erich von Daniken, sosok yang disebut sebagai ‘Bapak Teori Astronot Kuno‘. Dalam bukunya yang berjudul ‘Chariots Of The Gods‘ mempopulerkan argumen tentang alien kuno yang berinteraksi dengan manusia primitif.
anunnaki, alien, dewa
The Fallen Angel / Credit: zastavki
Rev.Barry Downing juga meneliti hubungan antara UFO dan keyakinan agama. Di bukunya yang berjudul ‘The Bible and Flying Saucers‘ adalah buku yang berisi hipotesis perspektif Alkitab tentang fenomena UFO dan alien. Teori Von Daniken mengatakan bahwa nenek moyang kita (manusia primitif) menganggap alien sebagai Dewa dan membuat ‘sistem kepercayaan supranatural’ dalam pertemuan mereka. Downing juga mengatakan bahwa Alien tertentu sebenarnya malaikat Allah atau utusan ilahi yang dikirim ke bumi.
Kedua sudut pandang muncul di ruang lingkup yang bervariasi, mulai dari Anunnaki yang dianggap bangsa Sumeria dan Babilonia sebagai Dewa pencipta manusia. Kemudian insiden UFO Roswell tahun 1947 di New Mexico, dan ada lagi dugaan tentang Wajah di Mars. Teori astronot kuno umumnya beranggapan bahwa alien adalah manusia dengan teknologi canggih yang berevolusi melalui seleksi Teori Darwin melalui sang pencipta. Alkitab UFOlogi manyatakan sebaliknya, bahwa beberapa makhluk langit adalah makhluk abadi yang diciptakan oleh Allah yang mungkin berada pada peperangan di ruang angkasa dengan entitas alien agresif.
Definisinya bahwa Tuhan tidak lain merupakan bagian dari keabadian. Sepanjang sejarah antropologi dinyatakan adanya hewan Dewa yang disebut Dewa Humanoid, Dewa Roh, dan Dewa Totem, dimana mereka dianggap hidup abadi.
Dewa bisa mengalami kematian, sakit, dan nafsu manusia, namun kematian bisa mereka hindari. Tidak semua Dewa yang baik atau peduli kepada umat manusia, Sebuah premis universal Dewa Kuno merupakan ‘Pergeseran Generasi’ atau menjatuhkan kedaulatan dari orangtua kepada anak. Salah satunya adalah ketika manusia bisa menerima pahala, kebaikan dari keabadian dan menjadi Dewa atau menikah dengan mereka.

Hipotesis Singularitas Tentang Peradaban Alien

Ilmuwan Amerika dan gerakan Singularity futuris (Ray Kurzweil) menyatakan bahwa manusia bisa menjadi abadi dalam waktu 20 tahun melalui Nanoteknologi yang mampu menggantikan organ vital manusia. Teknologi Singularity merupakan istilah yang diciptakan oleh penulis fiksi ilmiah, Vinge Vernor. Hal ini mengacu pada penciptaan komputer pintar yang mengembangkan kecerdasan mereka sendiri, Transhumanists yang mendukung peningkatan kapasitas manusia melalui teknologi canggih.
Para Dewa kuno tidak digambarkan sebagai manusia super yang seharusnya ditanamkan dalam imajinasi impulsif. Dewa kuno menderita dan mati, tetapi kemudian disatukan kembali bersama-sama atau dibangkitkan sesuai dengan pernyataan Kurzweil bahwa organ-organ vital akan diregenerasi. Jika peradaban alien memang menjadi abadi melalui teknologi canggih, menurut definisi maka mereka adalah Dewa. Hipotesis Von Daniken mengusulkan bahwa alien mengajarkan manusia primitif tentang astronomi, geometri, dan bahkan konstruksi monolit.
Tapi mengapa mereka tidak bisa mengajarkan manusia tentang perbedaan antara ‘Dewa Imajiner’ dan ‘Alien’ yang hidup saat ini? Mungkinkah makhluk abadi ingin diperlakukan sebagai Dewa atau malaikat yang menggambarkan masa depan Manusia Abadi?
Fisikawan Amerika-Jepang dan penulis Michio Kaku menggambarkan pencarian ilmiah tentang kemungkinan peradaban alien melalui pembagian Tipe I, II, III dan IV. Mereka menduga peradaban Type I yang mengarahkan pada sumber daya dari seluruh planet, tapi manusia belum ada di sana. Penyalahgunaan senjata nuklir dan peluncuran roket ruang angkasa memungkinkan prospek yang mengerikan sebagai ancaman disetiap planet yang dekat dengan Bumi. Hal ini memicu respon hipotetis peradaban Tipe II yang mengontrol energi dari seluruh tata surya. Sementara peradaban Tipe III akan mengontrol energi dari seluruh galaksi. Tidak didasarkan pada molekul karbon, hal tersebut merupakan kecerdasan manusia super, tak terkecuali malaikat.
Peradaban Tipe IV akan mengontrol penciptaan alam semesta dari Big Bang. Kecerdasan tak tertandingi yang terkadang disebut sebagai replikator kuantum, astrobiologis Paul Davies pernah menyebutnya sebagai ‘Q-Life‘ yang merupakan Ketuhanan tertinggi dari jiwa manusia dan mendiami sebuah Singularitas Multiverse.
Mereka menyatakan string informasi tentang masa lalu selama miliaran tahun sehingga menetapkan kondisi awal Big bang. Fisikawan Amerika (Ronald Mallett) menggunakan persamaan Albert Einstein untuk menggambarkan pergeseran waktu dengan sinar laser. Dan hasilnya,… sebuah peradaban Tipe IV tidak pernah berhenti menciptakan alam semesta baru.
Penulis Amerika ‘Michael Talbot‘ menyatakan teori realitas yang menunjukkan fisik alam semesta dengan hologram raksasa, setelah dia memeriksa fisikawan David Bohm dan neurofisiologi Karl Pribram dimana keduanya secara independen menggunakan teori holografik dan model alam semesta.
Talbot berpendapat bahwa keberadaan manusia merupakan holografik yang memproyeksikan struktur Big bang itu sendiri. Jika demikian, maka ada Dewa atau peradaban Alien yang akhirnya mungkin akan dihadapi manusia, setidaknya untuk membuktikan holografik dari makhluk abadi, tapi bukan sebagai Zat pencipta alam.